PROYEK PENDIDIKAN INDONESIA
Diposting oleh Abdus Somad , Jumat, 03 Agustus 2012 08.09
Pada
bulan april tepatnya tanggal 10 – 16 april 2012 Dua siswi dari Indonesia,
Christa Lorenzia Soesanto dan Natasha Sutedja, berhasil mencetak prestasi
membanggakan pada European Girls Mathematical Olympiad (EGMO) 2012 di Murray
Edwards College, Inggris. Christa (15 tahun) meraih Medali Perak dengan total
skor 30, sedangkan Natasha (15 tahun) menyabet Medali Perunggu dengan skor 15.
Kedua belia berbakat ini ikut berkompetisi ke EGMO di bawah pimpinan Anton
Wardaja.
Kesusksesan
kedua siswa tersebut tak pelak menjadi inspirasi siswa lainnya begitu juga para
guru untuk melahirkan obsesi untuk menjadikan sekolah masing- masing unggul di
Indonesia. Seluruh lampu tersorot melihat kesuksesan mereka. Persoalan di
sekeliling kita ( pendidikan kita yang
mestinya jauh tersorot, menjadi gelap gulita. Perhatian masyarakat Indonesia tersedot
pada kesuksesan kedua siswa .tersebut mengapa tidak? Dengan bangga menyabet
gelar juara di olimpiade berkelas Internasional itu merupakansuatu capaian prestasi yang luar biasa. Perhatian Publik tersorot pada pencapain mereka, tapi tidak pada proses. Masyarakat pun
luput melihat efek negative yang terbangun dari proses panjang menuju tangga
juara. Mereka hanya merayakan hasil dengan gegap gempita.
Sekilas
memang tidak ada yang salah pada kemenangan anak-anak bangsa kita di ajang yang bergensi di olimpiade
Internasional . namun menilik lebih dalam, capaian tersebut menjadi pelarian dari banyak persoalan
pendidikan nasional kita. Setitik kesuksesan di tengah lautan masalah
pendidikan bangsa kita yang bisa membahagiakan para penyelenggara pendidikan,
ketika itu juga para pemerintah bangga akan pencapaian anak bangsanya Yang sebenarnya
topeng untuk pendidikan nasional kita. Bangga akan prestasi, bangga akan gelar
dan bangga akan juara yang di dapat dari anak bangsa padahal masih banyak sekolah- sekolah yang
perlu dan sangat membutuhkan perubahan sekolah, perubahan infrastuktur dan yang
laiinya dan itu harusnya menjadi sorotan pemerintah, tidak hanya segelintir
orang yang mendapatkan prestasi yang perlu di bicarakan atau di banga-
banggakan.
Saat
ini memang pendidikan di Indonesia
terutama di sekolah- sekolah mereka
hanya memuja kompetisi. Gaya berfikir yang kompetitif
sangat erat pada system persekolah di Indonesia. Mungkin di mulai sebagai sekedar
alat merangsang motivasi belajar atau kepercayaan diri siswa untuk mampu
berkompetisi di tingkat nasional sampai tingkat internasional. Kata kompetitif sudah menjadi matra bagi
sekolah untuk mendapatkan lirikan dari pihak luar dan pemerintah itu sendiri. Namun
watak memuja kompetisi punya tugas lain. Ia bisa menenggelamkan dan mengalihkan
perhatian publik dan praktek persekolahan
atau bisa saja menngalihkan dan
membangga- banggakan bawah pendidikan kita sudah maju dan mampu bersaing di
dunia. Tak heran kita melihat pendidikan kita hanya bisa dirasakan oleh segelintir
orang tertentu saja mulai dari
pembinaan, diseleksi sejara ketat yang kemudian mewakili bangsa Indonesia untuk
beekompetisi, pulang membawa juara dan kemudian di bangga- bangkan oleh para
pemerintah atas jerih payahnya bisa memberikan mendali untuk Indonesia itu lah
yang Indonesia inginkan.
Namun
yang kita lihat pada kesempatan ini
adalah apa sebenarnya efek dari semakin melebarnya daya jelajah anak-anak Indonesia
di ajang lomba olimpiade? Seperti yang
disinggung pada bagian awal wacana yang berkembang di linkungan mereka menjadi
kian menyempit. Orang seperti menemukan lomba- lomba tersebut sebagai semacam “
jalan keluar “ atau lebih tepatnya jendela pelarian dari menumpuknya
persoalan pendidikan di Indonesia.

Posting Komentar