Perkuliahan di tempuh di Rusunawa UAD

Diposting oleh Abdus Somad , Senin, 06 Agustus 2012 04.41




Study islam (AIK ) kuliah ntensif yang di temouh selam 4 hari cukup merinkankan saya dan temen yang lain juga,kuliah yang harusnya di tempuh selam 2 semester kini hanya di tempuh 4 hari.yang jadi pertanyaan yang masih terpendam kenpa study islam hanya di tempuh 4 hari,knpa materi yang di kuliahkan hanya AIK sedangkan yang lainya tidak ?
 Saat-saat yang menyenangkan,menyusahkan,dan mengecewakan  kami berada di asrama Universitas Ahmad Dahlan ( UAD ) yogyakarta atau yang di sebut RUSUNAWA UAD.selama 4 hari di bekali materi yang seharusnya di tempuh 2 semester,di antaranya thoharah,tafsir hadist,zakat, almu faraid ( ilmu waris ) dan lainya.
Pertama kali menginjakan kaki di RUSUNAWA,suasans pun berbeda seakan-akan merasa belajar di pondokkan,kamipun mulai menuju kamar masing-masing untuk istirahat dan menaruh barang bawaan kita,akupun bingung saat mencari kamarku,setelah naik tangga ke lantai 3 kutemukan kamarku yang di huni hanya 4 orang di antaranya anak pendidikan matematika dan pendidikan fisika internasional salah satunya aku sendiri,takkusangka yang ku ajak sekamar adalah temenku sendiri dari pendidikan matematika,ya aku tak ssungkan-sungkan untuk tidur bareng bersama dia.tak lama kami beristirhat panitia menyuruh kumpul untuk pembukaan AIK.kamipun turun ke lantai dasar untuk mengikuti kegiatan pembukaan AIK,
Pembukaan perkuliahan intensif AIK di buka oleh pembina RUSUNAWA
( asrama UAD).setelah pembukaan dan pembacaan ayat suci ala-qur’an di lanjutkan dengna pembagian kelompok perkuliah kelompok di bagi menjadi  dua kelompok yakni kelompok A dan kelompok B yang didalamnya tercampur anak Pendidikan Fisika dan pendidikan matematika.untuk pembelajaran itu sendiri di bagi dua tempat untuk kelompok A di aula asrama putra dan yang kelompok B di aula putri,setiap harinya gantian menempati ruangan supaya mahasiswa tidak jeuh dengan pembelajaran dan materi yang di berikan dosen pembimbing.aku saat itu berada di kelompok B,pertama kali kuliah di mulai kita di suruh membuat kelompok untuk merumuskan kontrak belajar masing-masing apa saja yang harus kita lakukan di sini yang meliputi kewajiban,hak,dan tujuan kita mengikuti perkuliahan instensif AIK.
            Setelah perumusan kontrak belajar,kami di suruh membacakan tentang apa yang kita rumuskan di selembar kertas Manila,apa yang kita buat dalam rumusan kontrak belajar kita harus mematuhinya dan apa yang menjadi hak kita para pembimbing juga mematuhinya.setelah itu di lanjutkan dengan materi perkuliahan yang sudah di jadwalkan pembimbing AIK,
            Pembelajaran kamipun dimulai dengan materi Thoharah ( bersuci ) materi ini mengajarkan kita bagaimana cara bersuci dari najis,mandi besar,serta bagaimana cara berwudhlu yang benar sesuai dengan Hadist Rasulullah S.A.W,pemateri begitu antusias mengajarkan materi kepaa kami di selingi dengan candaan tapi tetap fokus pada materi apa yang telah di berikan,kamipun tidak jenuh dengan materi dari thoharah ini. Selama 3 jam kami d bekali materi kami jadi lebih paham dan mengerti bagaimana cara bersuci yang baik dan benar.setelah itu kami beristirahat tak lepas ari itu kami unakan waktu istirahat untuk menghafal hadist,surah,dan bacaan sholat fardhu yang harus kami hafal untuk nilai kami nantinya.dikit demi sedikit aku mulai menghafal demi meraih nilai yang sempurna,tidak hanya aku yang mengahfal tapi banyak mahasiswa juga yang menghafal dengan tujuan yang sama.
            Adzan dzuhur berlat brkumandang saatnya kami smelaksanakan sholat berjamaah semua mahasiswa wajib sholat berjamaah kecuali yang halangan,sehabis sholat ada kultum yang awali oleh mahasiswa pendidikan fisika begkutu  juga seterusnya sehabis sholat ada kultum yang I tunjuk oleh mahasiswa yang sudah maju untuk kultum begitu juga dengan  imam dan adzan.seteka itu ada materi kuliah lagi begitu seterusnya selama 4 hari 3 malam.kita tidak hanya belajar saja tapi ada olahrahanya yag di laksanakan pada hari rabu,disana kami di ajak melakukan permainan yang mengutamakan kerjasama,kekompakan dak kekeriatifan kelompok,dimana setiap kelompok harus mempunyai ide-ide untukmembantu kelompoknya.setelah itu kami makan pagi bersama dengan santapan soto ayam,tidk hanya sholat yang berjamaah tapi makanpun kami berjamaah pada saat itu,seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan intensif ( AIK ) dan panitia serta pembimbing menyantap soto bersama sunguh nilai kebersamaan aku dapatkan pada saat itu.tak lepas dari itu aku manfaatkan untuk memotret  teman – teman yang sedang asik menikmati soto ayam ,merekapun dengan senang bergaya sambil memihatkan santapannya.
            Saat – saat yang menegngkan bagiku karena aku belum juga hafal bacaan sholat pada hari ke 4 pada saat itu juga aku di tunjuk untuk mengisi kultum,aku mulai bingung ang mana yang harus dahuluka apa menhafal kulttum apa bacaan sholat? Khirnya saya memutuskan atas izin allah saya memilih menyelesian hafalan saya dulu,baru menghafal kultum.hafalanku pun alhamdulillah bisa saya selesaikan dan sayapun mulai menghafal kultum,ternyata aku masih bingung harus mencari tema apa untuk kultum,dengan terpaksa saya maju kedepan daengan mengambil tema “nasib pendidikan di indonesia “ aku jabarkan semua ilmu apa yang saya dapatkan di organisasi dan di perkuliahan.selesai tugas ku semua tinggal aku mempersiapkan kepulangan dari perkuliahan instensif ( AIK ) selama 4 hari 3 malam di asrama Universita Ahmad Dahlan.
            Agenda selanjutnya persiapan pulang dan penutupan Perkuliahan AIK yang sudh di tunggu-tunggu mahasiswa dengan alasan ingin cepat balik kekost “ asik sudah pulang sudah kangen kost ni “ kata mahasiswa pendidikan matematika sebutlah adhin ditemui saat persiapan penututupan AIK.persiapan penutupan pun dimulai di awali dengan pembagian snack utuk mahasiswa selajutnya masuk ke acara inti yakni pembacaan ayat suci al-qur’an kemudian kesan pesan   mahasiswa selama mengikuti perkuliahan intensif ( AIK ) selama 4 hari 3 malam di asraa Universitas Ahmad Dahlan ( UAD ) yogyakarta dan yang terakhir sambutan ketua panitia yang sekaligus menutup perkuliahan AIK.
            Perkulihan AIK selesai sudah para mahasiswa mulai menunggu bis yang menghantarkan pulang,tapi sebelum pulang kami berfoto-foto untuk kenang-kenangan kami selama mengikuti perkuliahan AIK,tak sungkan-sungkaan dan dengan gaya yang axis berfoto bersama di depan antara asrama Putra dan asrama Putri UAD,rasa capek,lemah lesu,serta senang bercampur jadi satu saat keluar dari RUSUNAWA UAD dan kembali ke kost masing-masing dengan muka bercampur perasaan yang berbeda- beda
             

Diposting oleh Abdus Somad , Minggu, 05 Agustus 2012 13.55



NASIB PENDIDIKAN BANGSA KITA

Penidikan di Indonesia saat ini sangat menyedihkan dan sangat meperihatinkan,betepa tidak?tujuan bangsa kita sudah jelas di dalam UUD 45 yakni mencerdaskan anak bangsa.lalu apa yang di lakukan pemrintah saat ini sudah menutup sebagian cita-cita anak bangsa yang seharusnya di berlakukan adil. Banyak anak –anak jalanan yang ingin sekolah ingin menimba ilmu  dan ingin meraih cita-citanya  tidak bisa ia raih karena kendala biaya pendidikan yang begitu besar,pendidikan gratis yang  di janjikan pemerntah takluputnya seperti barang buangan.pemerintah hanya menggratiskan saat pendaftaran dan pemberian baju sekolah,lalu buku-buku pelajaran  yg ai butuhkan ia harus membelinya sendiri, dana bantuan APBN apa tidak cukup untuk memberikan bantuan kepada anak yang ingin yang bersemangat untuk  menuntut ilmu dan ingin meraih cita-citanya,mau di apakan dana APBN yang seharusnya 20%untuk pendidikan tapi hanya 12% yang baru terralisasi, ini membultikan pemerintah hanya ucap janji tapi tak ada realisasi siapa yang harus disalahkan  Melihat pendidikan di indonesia rusak dan memperiharinkan ?
Pendidikan di Indonesia tak luputnyaa barang  komudity ( barang dagang).perguruan tinggi yang seharusnya mampu memberikan harapan untuk bangsa tapi saat ini perguruan tinggi seperti layaknya barang dagang yang saat ini banyak perguruan tinggi sudah banyak menerima  sponsor  hanya ingin mendapatkan uang,lalu dana yang selama ini di keluarkan mahasiswa apa tidak cukup untuk pendananaa di perguruan tinggi. Banyak  diluar yang ingin melanjutkian kuliah tapi belum bisa ia nikmati, banyak di luar sana yang ingin meraih cita-citanya dan ingin memajukan bangsa Indonesia tapi tak bisa ia wujudkan hanya karena biaya pendidikan sangat besar,mau di apakan pendidikan di indonesia?haruskah sistem pendidikan di Indonesia dirubah?.
 Untuk  kejayaan, kebesaran dan kemegahan suatu bangsa dan Negara ialah orang-orang yang berpendidikan dan berpengetahuan.karena modal perkembangan untuk suatu bangsa dan negara adalah tenaga-tenaga ahli yang berpendidikan dan berpengetahuan.Padahal pendidikan itu adalah bekal manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.tanpa pendidikan kehidupan manusaia akan terlantar,dengan pendidikan kita bisa tahu arah tujuan kita kemana. tapi realitasnya di indonesia  yang bisa menikmati pendidikan  hanya untuk orang-orang yang beruang,harga diri nasionalisme kita sudah di injak-injak sudah dirobek-robek oleh tradsi penindasan,tradsi kebodohan dan tradisi keserahakan yang tak habis-habisnya memakan memangsa anak-anak generasi penerus bangsa kita, yang tidak berdosa yang tidak tahu apa-apa. seharusnya pemerintah bertindak tegas dan serius memperhatikan pendidikan bangsa kita.
Setiap bangsa bermimpi tetapi tidak semua bangsa sama.mereka yang bermimpi di malam hari tahu bahwa mimpi hanya suatu angan-angan,sedangkan mereka yang bermimpi di siang hari sebaliknya bisa salah sangka.mereka memikirkan mana yang pengharapan yang terlampau dan mana yang sewajarya.bangsa yang besar ini masih terlampau di dalam ukuran sejarah tapi bukan bangsa yang tak peduli akan warganya.
Kita mengatakan bahwa kemerdekaan itu hak semua bangsa dan bukan pemberian dari seorang dermawan kita selalu berseru “ bangunlah jiwanya,bangunlah badannya”oleh karenanya kita harus menjadi manusia yang benar-benar berekpresi dan bereaksi serta rela berkorban untuk bangsa karena kita sebagai putra-putri dari bangsa yang kita impikan agar menjadi bangsa yang disegani dunia.
             
             

KAUM MISKIN BERSATULAH

Diposting oleh Abdus Somad , Sabtu, 04 Agustus 2012 15.43




Hiduplah rakyatku
Hiduplah negeriku
Hiduplah bangsaku
Hiduplah kaum miskin
          Kaum miskin brsatulah
          Kau yang di tindas
          Kau yang diperbudak
          Lawan dan bersatulah
Kita bukanlah rakyat biasa
Yang hanya mau diperintah
Kita bukanlah kerbau
Yang selalu menuruti perintah majikan
          Saatya kita begerak dan teriakkan pembebasan!!!!
          Kita hancurkan kapitalisme
          Kita hancurkan neoriberalisme
          Kita hacurkan militerisme
Kaum miskin bersatulah
Kita hapus penindasan
Kita hapus kekerasan
Kita hapus keterpurukan
          Saatnya kita menentang kemiskinan
          Saatnya kita bangun
          Kita rapatkan barisan
          Untuk rakyat
Mari kita kobarkan api
Dari jiwa kita yang suci
Untuk membebaskan negeri ini
 Yang sudah  di kotori
          Kaum miskin bersatulah
          Ayo berseru!!!ayo bersatu!!!
Kita pasti menang
Kaum miskin ayo kita bersatu
           

KORUPTOR MATI SAJA

Diposting oleh Abdus Somad , 15.42




Puaskah kau habisi rakyatmu
Puaskah kau menyiksa rakyatmu
Kau tidak pernah merasakan penderitaan rakyatmu
Kau tidak merasakan betapa susah rakyatmu mencari uang
            Tapi kau dengan santai memporoti uang rakyat
            Kau apakan uang rakyat
            Tidakkah puaskah kau dari rejeki tuhan
            Kenapa kau rela mengambil uang rakyatmu
Padahal rakya lebih membutuhkan
Kenapa tidak kau bagikan saja uang rakyat yang kau ambil
kau layak di bunuh dan di hanguskan
kau layak di bakar dan di gantung
            seandainya saja para pendahulumu tahu
            kelakuanmu seperti hewan liar
            masih beranikah kau katakan
            hidup rakyat………..

Rakyat sengsara

Diposting oleh Abdus Somad , 15.41




Rakyatkan menang melawan kedaulatan
Rakyatkan  menang melawan penindasan
Para pejabat lihatlah rakyatmu
Tergusur lapar di jalan
        Rakyat tertindas
        Rakyat menangis
        Karena ulah neoriberalisme
        Karena ulah kapitalisme
Takkah kau peduli dengan rakyatmu
Yang membutuhkan uluran tanganmu
Kenapa kau lupa dengan amanah rakyatmu
Kenapa kau ingkar janji dengan rakyatmu
        Padahal kau di pilih untuk mensejahterakan rakyat
        Kau dipilih,tapi kau khianati rakyat
        Tidakkah kau malu dengan janjimu untuk rakyat
Apalagi yang kau inginan dari rakyat
Sudah puaskah kau sakiti
Sudah puaskah kau derita
Sudah puaskah kau cincang
Sudah puaskah kau khianati
        Sampai kapan kau akan seperti ini
        Melihat rakyatmu menderita
        Siapalagi yang kau salahkan
        Sampai kapan kau menindas rakyatmu
           

Indonesia darah dan tulangmu

Diposting oleh Abdus Somad , 05.01




Indonesia Merah darahmu putih tulangmu
 Dihancurkan oleh segelintir orang munafik
 Hingga Warna darah dan tulangmu tak sebersih dulu
Tidak seperti para pejuang yang mempertahankan darah dan tulangmu
            Harga diri nasionalismemu sudah di robek-robek
            Oleh tradisi penindasan
            Oleh tradisi kebodohan
            Oleh tradisi keserakahan
Kapan warna darah dan tulagmu bisa kembali
Betapa generasi penerus kita
Betapa anak cucu kita sedih
Melihat warna darah dan tulangmu dikotori
            Padahal kau ingin anak cucu,penerus kita tahu
            Warna darah dan tulangmu bersih
            Tidak ada kuman dan bakteri di dalamnya
            Lalu apa yang akan  kau akan katakan untuk penerusmu?
Siapakah yang akan membersihkan darah dan tulangmu
Apakah kau akan menyuruh penerusmu
Padahal dia tidak mengotorinya
Dia tidak tahu apa-apa

PROYEK PENDIDIKAN INDONESIA

Diposting oleh Abdus Somad , Jumat, 03 Agustus 2012 08.09


Pada bulan april tepatnya tanggal 10 – 16 april 2012 Dua siswi dari Indonesia, Christa Lorenzia Soesanto dan Natasha Sutedja, berhasil mencetak prestasi membanggakan pada European Girls Mathematical Olympiad (EGMO) 2012 di Murray Edwards College, Inggris. Christa (15 tahun) meraih Medali Perak dengan total skor 30, sedangkan Natasha (15 tahun) menyabet Medali Perunggu dengan skor 15. Kedua belia berbakat ini ikut berkompetisi ke EGMO di bawah pimpinan Anton Wardaja.
Kesusksesan kedua siswa tersebut tak pelak menjadi inspirasi siswa lainnya begitu juga para guru untuk melahirkan obsesi untuk menjadikan sekolah masing- masing unggul di Indonesia. Seluruh lampu tersorot melihat kesuksesan mereka. Persoalan di sekeliling kita ( pendidikan kita  yang mestinya jauh tersorot, menjadi gelap gulita. Perhatian masyarakat Indonesia tersedot pada kesuksesan kedua siswa .tersebut mengapa tidak? Dengan bangga menyabet gelar juara di olimpiade berkelas  Internasional itu merupakansuatu capaian  prestasi yang luar biasa. Perhatian Publik  tersorot pada pencapain  mereka, tapi tidak pada proses. Masyarakat pun luput melihat efek negative yang terbangun dari proses panjang menuju tangga juara. Mereka hanya merayakan hasil dengan gegap gempita.
Sekilas memang tidak ada yang salah pada kemenangan  anak-anak  bangsa kita  di ajang yang bergensi di olimpiade Internasional . namun menilik lebih dalam, capaian tersebut  menjadi pelarian dari banyak persoalan pendidikan nasional kita. Setitik kesuksesan di tengah lautan masalah pendidikan bangsa kita yang bisa membahagiakan para penyelenggara pendidikan, ketika itu juga para pemerintah bangga akan pencapaian anak bangsanya Yang sebenarnya topeng untuk pendidikan nasional kita. Bangga akan prestasi, bangga akan gelar dan bangga akan juara yang di dapat dari anak bangsa  padahal masih banyak sekolah- sekolah yang perlu dan sangat membutuhkan perubahan sekolah, perubahan infrastuktur dan yang laiinya dan itu harusnya menjadi sorotan pemerintah, tidak hanya segelintir orang yang mendapatkan prestasi yang perlu di bicarakan atau di banga- banggakan.
Saat ini memang pendidikan di  Indonesia terutama di sekolah- sekolah  mereka hanya memuja kompetisi. Gaya berfikir yang kompetitif sangat erat pada system persekolah di  Indonesia. Mungkin di mulai sebagai sekedar alat merangsang motivasi belajar atau kepercayaan diri siswa untuk mampu berkompetisi di tingkat nasional sampai tingkat internasional. Kata kompetitif sudah menjadi matra bagi sekolah untuk mendapatkan lirikan dari pihak luar dan pemerintah itu sendiri. Namun watak memuja kompetisi punya tugas lain. Ia bisa menenggelamkan dan mengalihkan perhatian publik dan praktek persekolahan  atau  bisa saja menngalihkan dan membangga- banggakan bawah pendidikan kita sudah maju dan mampu bersaing di dunia. Tak heran kita melihat pendidikan kita hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang  tertentu saja mulai dari pembinaan, diseleksi sejara ketat yang kemudian mewakili bangsa Indonesia untuk beekompetisi, pulang membawa juara dan kemudian di bangga- bangkan oleh para pemerintah atas jerih payahnya bisa memberikan mendali untuk Indonesia itu lah yang Indonesia inginkan.
Namun yang  kita lihat pada kesempatan ini adalah apa sebenarnya efek dari semakin melebarnya daya jelajah anak-anak Indonesia  di ajang lomba olimpiade? Seperti yang disinggung pada bagian awal wacana yang berkembang di linkungan mereka menjadi kian menyempit. Orang seperti menemukan lomba- lomba tersebut sebagai  semacam “  jalan keluar “ atau lebih tepatnya jendela pelarian dari menumpuknya persoalan pendidikan di Indonesia.

MENEGENAL SUTAN SYAHRIR

Diposting oleh Abdus Somad , 00.34


Sutan Syahrir atau juga dieja sebagai Soetan Syahrir (Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909–Zürich, Swiss, 9 April 1966) adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Beliau meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Riwayai Beliau
Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.
Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub debat di sekolahnya. Syahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.
Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.
Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis. Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar tak dibaca para pelajar sekolah.
Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo).
Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif –saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.
Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik. "Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan," katanya.
Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.
Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi; secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.
Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.
Masa pendudukan Jepang
Sementara Soekarno dan Hatta menjalin kerja sama dengan Jepang, Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Syahrir yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang, oleh karena itu, kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat. Simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader muda yakni para mahasiswa progresif.
Sastra, seorang tokoh senior pergerakan buruh yang akrab dengan Syahrir, menulis: “Di bawah kepemimpinan Syahrir, kami bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan subjektif, sambil menunggu perkembangan situasi objektif dan tibanya saat-saat psikologis untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan.”
Situasi objektif itu pun makin terang ketika Jepang makin terdesak oleh pasukan Sekutu. Syahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri. Kala itu, semua radio tak bisa menangkap berita luar negeri karena disegel oleh Jepang. Berita-berita tersebut kemudian ia sampaikan ke Hatta. Sembari itu, Syahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.
Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus karena Jepang sudah menyerah, Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang, tidak merespon secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan diproklamasikan pada 24 September 1945.
Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab sikap itu berisiko kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepang dan RI adalah bikinan Jepang. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus. Akhirnya, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.
Masa Revolusi Nasional Indonesia
Revolusi menciptakan atmosfer amarah dan ketakutan, karena itu sulit untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep dan langkah strategis meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi. Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut banyak kalangan pejuang republik: Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Dua tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi dengan Pemerintahan Fasis Jepang, meski kemudian bertentangan jalan dalam memperjuangan kedaulatan republik.
Di masa genting itu, Bung Syahrir menulis Perjuangan Kita. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai Perang Dunia II. Perjungan Kita muncul menyentak kesadaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.
Tulisan-tulisan Syahrir dalam Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.
Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.
Perjuangan Kita adalah karya terbesar Syahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, "Satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan."
Terbukti kemudian, pada November ’45 Syahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Syahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.
Penculikan
Penculikan Perdana Menteri Sjahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada 26 Juni 1946 di Surakarta oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.
Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya Tan Malaka dari Partai Komunis Indonesia. Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras.
Presiden Soekarno sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal 1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.
Tanggal 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14 pimpinan penculikan.
Presiden Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini karena dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (koppig).
Kelak Let. Kol. Soeharto menjadi Presiden RI Soeharto dan menerbitkan catatan tentang peristiwa pemberontakan ini dalam buku otobiografinya Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.
Lt. Kol. Soeharto berpura-pura bersimpati pada pemberontakan dan menawarkan perlindungan pada Mayjen Soedarsono dan ke 14 orang pimpinan di markas resimen tentara di Wiyoro. Malam harinya Lt. Kol. Soeharto membujuk Mayjen Soedarsono dan para pimpinan pemberontak untuk menghadap Presiden RI di Istana Presiden di Jogyakarta. Secara rahasia, Lt. Kol. Soeharto juga menghubungi pasukan pengawal Presiden dan memberitahukan rencana kedatangan Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak.
Tanggal 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal.
Diplomasi Syahrir
Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden Soekarno. Namun pada tanggal 2 Oktober 1946, Presiden menunjuk kembali Syahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada 15 November 1946.
Tanpa Syahrir, Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa.
Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Karena agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi. Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak meluap dan justru merusak.
Sebagaimana argumen Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.
Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.
Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dll. Karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.
Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan. Di pengujung Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Saat serdadu itu menarik pelatuk, pistolnya macet. Karena geram, dipukullah Syahrir dengan gagang pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia. Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.
Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.
Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran aksi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III), Syahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Dengan bantuan Biju Patnaik, Syahrir bersama Agus Salim berangkat ke Lake Success, New York melalui New Delhi dan Kairo untuk menggalang dukungan India dan Mesir.
Pada 14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.
Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di Turki.
Syahrir populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang Dewan Keamanan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai The Smiling Diplomat.
Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.[1]
Partai Sosialis Indonesia
Selepas memimpin kabinet, Sutan Syahrir diangkat menjadi penasihat Presiden Soekarno sekaligus Duta Besar Keliling. Pada tahun 1948 Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) sebagai partai alternatif selain partai lain yang tumbuh dari gerakan komunis internasional. Meskipun PSI berhaluan kiri dan mendasarkan pada ajaran Marx-Engels, namun ia menentang sistem kenegaraan Uni Soviet. Menurutnya pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia.
Hobi Dirgantara dan Musik
Meskipun perawakannya kecil, yang oleh teman-temannya sering dijuluki Si Kancil, Sutan Syahrir adalah salah satu penggemar olah raga dirgantara, pernah menerbangkan pesawat kecil dari Jakarta ke Yogyakarta pada kesempatan kunjungan ke Yogyakarta. Di samping itu juga senang sekali dengan musik klasik, di mana beliau juga bisa memainkan biola.
Akhir hidup beliau
Tahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI dan PSI tahun 1958[2], hubungan Sutan Syahrir dan Presiden Soekarno memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai 1965 sampai menderita stroke. Setelah itu Syahrir diijinkan untuk berobat ke Zürich Swis, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI Sugondo Djojopuspito menghantarkan beliau di Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk Sugondo degan air mata, dan akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966.
Jabatan beliau selama beliau masih hidup
Perdana Menteri pertama Republik Indonesia
Ketua Partai Sosialis Indonesia (PSI)
Ketua delegasi Republik Indonesia pada Perundingan Linggarjati


PIDATO TAN MALAKA DI KONGRES KOMINTERN IV

Diposting oleh Abdus Somad , 00.26


Tan Malaka (1922)
            Ini adalah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxist Indonesia Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional  ke empat pada 12 Nopember  1922. Mengenai isu yang dibawakan oleh Lenin dan diadopsi dari kongres kedua, yang telah menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka mengusulkan jalan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) telah dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada 1921, tapi pada tahun berikutnya dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda(East indies) oleh otoritas colonial. Setelah proklamasi kemerdekaan pada Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk berparsitipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua Partai Murba (Partai Proletar/ buruh, lawan dari brojuis), yang dibentuk pada 1948 untuk mengorganisir kelas oposisi pada pemerintahan Soekarno. Pada Februari 1949 Tan Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.
Sodara! Setelah mendengar  pidato-pidato Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan sodara-sodara eropa lainnya, serta berkenaan dengan kepentingan, untuk kita di timur juga, mengenai perlunya front bersatu, saya pikir saya harus angkat bicara, atas nama Partai Komunis Jawa, for jutaan rakyat tertindas di Timur (Hindia Timur).
            Saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal tersebut. Mungkin Jenderal Zinoviev tidak memikirkan tentang sebuah front bersatu di Jawa; mungkin front bersatu kita adalah sesuatu yang bebeda. Tapi keputusan dari Kongres Komunis Internasional kedua secara praktis berarti bahwa kita harus membentuk sebuah front bersatu dengan nasionalisme revolusioner.  Seperti yang kita harus ketahui , bahwa membentuk sebuah front bersatu juga perlu bagi Negara kita, front bersatu kita tidak bisa berdampingan dengan para Demokrat Sosial tapi harus bersama para nasionalis revolusioner. Namun, taktik yang digunakan oleh para nasionalis seringkali berbeda dengan cara kita; sebagai contoh, pemboikotan dan perjuangan pembebasan kaum Muslim, Pan-Islamisme. Dua hal inilah yang secara khusus saya pertimbangkan, sehingga saya bertanya begini. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boykot atau tidak? Kedua, apakah kita akan mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Bila ya, seberapa jauh kita akan terlibat?
            Pemboikotan tersebut, harus saya akui, pasti bukanlah sebuah metode Komunis, tapi hal itu adalah salah satu senjata paling tajamyang ada pada situasi penaklukan politik-militer di (Hindia)Timur. Dalamm dua tahun terahir kita telah menyaksikan keberhasilan pemboikotan rakyat Mesir 1919 melawan imperialism Inggris, dan lagi pemboikotan besar oleh China di ahir 1919 dan awal 1920. Gerakan  Pemboikotan terbaru terjadi di India Inggris. Kita bisa menganggap bahwa dalam beberapa tahun kedepan bentuk-bentuk lain pemboikotan akan terwujud di (Hindia) timur.  Kita tahu bahwa ini bukan metode kita; ini adalah metode yang cukup borjuis, sesuatu yang dimiliki oleh para borjuis nasionalis. Lebih jauh kita bisa bilang; bahwa pemboikotan berarti dukungan terhadap home-grown capitalism; tapi kita juga telah menyaksikan bahwa setelah gerakan boikot di India, kini ada delapan ratus pemimpin menderita di penjara, bahwa pemboikotan telah membangkitkan sebuah atmosfer yang sangat revolusioner, memang gerakan boikot telah memaksa pemerintahan Inggris untuk meminta bantuan militer kepada Jepang,dalam artian hal itu akan berkembang menjadi sebuah pemeberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para pemimpin The mahommedan di india – Dr. Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara – adalah para nasionalis yang nyata; kita tidak memiliki rising untuk merekam pada saat Gandhi dipenjara. Tapi rakyat di India sangat paham apa yang diketahui oleh para pelaku revolusi di sana: bahwa sebuah kebangkitan local hanya bisa berahir dalam kekalahan, karena kita tidak punya senjata atau material militer lainnya di sana, karena itu pertanyaan dari gerakan boikot akan, sekarang atau nanti, menjadi sebuah tekanan bagi kita para Komunis. Baik di India maupun Jawa  kita sadar bahwa banyak Komunis yang cenderung memprokamirkan gerakan boikot di Jawa, mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia teah lama dilupakan, atau mungkin ada semacam perasaan leapas dari Komunis di India sebagaimana yang bisa menantang pada semua gerakan. Bagaimanapun juga kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah kita akan mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita akan terlibat?
            Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita pernah bekerja sama dengan para Islamis. Di Jawa kita punya organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah pergerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.
            Hingga 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000 anggota, menuju pergerakan popular ini  dan membawa propaganda di sana. Pada 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam terlalu gelisah di pedesaan mengenai control pabrik-pabrik dan slogan: Segala kekuasaan untuk para petani miskin, segala kekuasaan hanya untuk para kaum proletar! Dengan demikian Sarekat Islam membuat propaganda yang sama dengan milik Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.
            Namun pada 1921 sebuah keretakan timbul sebagai hasil dari kritik janggal terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi keretakan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan pada Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan keretakan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan untuk seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tak akan ! ini adalah cara seorang Muslim berpikir singkat. Para pembuat propaganda di antara agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasinya dengan sangat baik. Jadi kita memiliki kertakan. (ketua: Waktu Anda telah habis)
            Saya datang dari Hindia Belanda, dan melalui perjalanan selama empat hari .(Applause)
 Para pengikut Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut mereka, untuk menggunakan sebuah expresi popular, tapi di hati mereka mereka masih bersama Sarekat Islam, dengan surge mereka. Karena surge adalah sesuatu yang tak bisa kita berikan pada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda lagi.
            Sejak ahir tahun lalu kita telah bekerja kearah pembangunan ulang link dengan Sarekat Islam. Pada kongres kita Desember tahun lalu kita bilang bahwa Muslim di Kaukasus dan Negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Soviet dan berjuang melawan Kapitalism Internasional, memahami agama mereka dengan lebih baik, kita juga bilang bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda untuk agama mereka, mereka bisa, meskipun mereka tidak harus melakukannya di berbagai pertemuan tapi di masjid-masjid.
            Kita telah ditanya di berbagai pertemuan public: Apakah Anda Muslim - ya atau tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya? Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan Muslim (Loud applause), karena Tuhan berfirman bahwsanya banyak iblis di antara banyak manusia! (Loud applause.) Jadi  kita bebankan sebuah kekalahan pada para pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kita tahun lalu kita telah memaksa para pemimpin mereka, melalui para pengikutnya, untuk bekerjasama dengan kita.
            Ketika sebuah serangan umum pecah Maret tahun lalu, para pekerja Muslim membutuhkan kita, karena kita memiliki petugas kereta api (railwaymen) di bawah kepemimpinan kita. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu kita mendatangi mereka, dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah berfirman bahwa di dunia railwaymen lebih berkuasa! (Loud applause.) railwaymen adalah pelaksana executive Tuhan di dunia ini. (Laughter)

Sumber : http://jesuskarto.wordpress.com/2008/08/29/pidato-tan-malaka/

Muslihat oleh Tan Malaka (1945)

Diposting oleh Abdus Somad , 00.13

Ditulis oleh Tan Malaka di Surabaya, 2 Desember 1945
Sumber: Tulisan ini diambil dari buku Merdeka 100%, cetakan pertama, Oktober 2005, dengan ijin dari penerbit Marjin Kiri. Buku ini mengandung tiga tulisan Tan Malaka: Politik, Rencana Ekonomi Berjuang, dan Muslihat.
PENGANTAR

TIGA MINGGU yang lampau Inggris-Nica dengan alasan yang dicari-cari dan berputar-putar dari tempo ke tempo, memajukan tuntutan pada kota Surabaya: supaya rakyat dan tentara dilucuti senjatanya. Maksudnya ialah supaya sesudah rakyat dan tentara dilucuti senjatanya, barulah Nica mau berunding dengan para pemimpin rakyat.
Tuntutan itu cuma satu artinya: Rakyat Indonesia lebih dahulu mesti dilucuti senjatanya. Kemudian akan dijajah kembali oleh Belanda, dengan Inggris sebagai pembantunya.
Rakyat Surabaya tak mau dilucuti senjatanya dan tak mau dijajah kembali. Tak mau pula ia berunding dengan senjata musuh di depan dadanya. Ini cocok dengan kemauan Rakyat Indonesia seluruhnya. Cocok pula dengan anjuran para pemimpin terkemuka di zaman Jepang. Cocok pula dengan semangat kemerdekaan yang sudah didengungkan selama 40 tahun. Cocok dengan hak dan kehormatan suatu Negara Merdeka.
Inggris-Nica dalam hakikatnya mau menjajah. Tuntutannya di atas tadi yang ditolak oleh rakyat Surabaya, dilaksanakannya dengan serangan gabungan dari laut, darat, dan udara.
Serangan yang sedahsyat-dahsyatnya selama ini.
Tiga minggu lamanya rakyat Surabaya sudah menahan serangan ini.
Hampir berbarengan dengan serangan Suarabaya, dengan maksud begitu juga dan alasan sejenis itu juga —yakni alasan “macan mau memakan anak kambing” menurut cerita terkenal— dengan alasan pura-pura itu sedang terjadi pertarungan hebat di Semarang, Ambarawa, Magelang, Jakarta, Bandung, dan Sumatera. Di mana-mana rakyat menang kalau cuma menjumpai perlawanan pasukan melawan pasukan. Tak ada pasukan Inggris-Nica yang bersenjata lengkap yang bisa menahan serangan pasukan Indonesia bersenjata serba kurang. Inggris bisa menang cuma dengan senjata luar biasa, yang membuat “orangnya” Inggris-Nica tak kelihatan lagi. Makin dekat ke pantai makin besar keuntungan dan kekuatan Inggris. Makin jauh dari pantai makin besar pula keuntungan dan kekuatan Indonesia. Dari Magelang Inggris-Nica sudah terusir sama sekali! Selalu saja Inggris, Belanda, Gurkha ... ataupun Jepang lari tunggang langgang kalau berhadapan pasukan melawan pasukan, orang melawan orang!
Rakyat Indonesia sudah menyambut “PERANG” yang tiada dinyatakan dengan “PERANG”. Rakyat kita sudah benar sikapnya! Rakyat sedang berjuang mati-matian membela sikapnya yang benar itu. Rakyat Indonesia sedang membikin sejarah buat Negara Indonesia dan dunia lain. Rakyat Indonesia ada di bawah pengobaran dunia. Kalah atau menangnya kelak Rakyat Indonesia tiadalah terletak pada kalah atau menangnya berjuang dalam peperangan yang tak sama persenjataan itu!
Kalah atau menangnya itu terletak pada “salah atau benarnya”. Ia mengambil “sikap” terhadap kecerobohan. Dan juga pada lemah atau kuat imannya memegang sikap yang sudah diambilnya. Seandainya pada tanggal 10-11 November itu rakyat Surabaya bertekuk lutut terhadap tuntutan yang melanggar hak dan kehormatannya sebagai bangsa merdeka, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia sekarang akan mengutuki sikap bertekuk lutut itu.
Seandainya kelak Rakyat Indonesia karena kalah sementara pada satu tempat saja sudah patah hatinya dan kemudian mengubah sikapnya, berkhianat kepada sikapnya bermula, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia tiada akan memandang Rakyat Indonesia masak buat merdeka. Tetapi jika sikap yang benar itu tiada bisa menang dalam perjuangan ini, maka di hari depan sikap itu akan diteruskan dipakai pada perjuangan yang akan datang sampai maksud itu tercapai.
Rakyat Indonesia pendeknya sedang berjuang buat kebenaran dan keadilan! Apakah muslihat yang mesti dijalankan dalam peperangan yang tidak sama persenjataan ini?
Di tengah-tengah dentuman mortir dan bom, sambil memperhatikan sikap tegak-tenang di pihak rakyat dan prajurit Surabaya, saya di masa ini lebih yakin lagi akan kebenaran MUSLIHAT yang mesti dijalankan, MUSLIHAT mana sudah lama terkandung dalam pikiran.
MUSLIHAT dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya itulah yang saya coba bentangkan di sini!
Mudah-mudahan brosur ini akan memberi faedah pada para pemimpin perjuangan Indonesia yang maha dahsyat dan paling modern ini. MERDEKA !!!


I.
 Suasana

A. IKLIM PERJUANGAN

Republik Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1945 berada dalam perjuangan yang hebat dahsyat. Percakapan yang berhubungan dengan Indonesia Merdeka diteruskan oleh MR. APAL, TOKE, DENMAS, PACUL, dan GODAM. Dalam hal merundingkan muslihat yang patut dijalankan ini pun nyata bahwa masing-masing pembicara terkungkung oleh sifat golongan sendiri-sendiri.
SI PACUL : Merdeka!
BERSAMA : Merdeka, Cul! Perubahan besar, Cul, buat engkau dari ucapan selamat pagi, apa kabar sampai merdeka! Kami kira engkau akan menyerbu dengan Kyai Kebal ke Surabaya! Sudahkah engkau terima jimat dan berkahnya Kyai Kebal. Mukamu berseri seperti baja saja, penuh kepercayaan.

SI PACUL : Betul saya percaya tetapi tidak atas kekebalan diriku sendiri. Saya percaya atas kekebalan 70 juta rakyat Indonesia. Asal saja semua syarat perjuangan dipahamkan dan MUSLIHAT dijalankan 70.000.000 manusia takkan dapat dijajah kembali.
SI TOKE : Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan kita sekarang?
SI PACUL : Saya juga bukan ahli, Kek! Saya juga mendapat pertanyaan dari surat kabar dan radio. Tetapi semalam kebetulan berjumpa beberapa teman yang baru kembali dari semua medan pertempuran kecuali dari seberang.
SI TOKE : Kabarkan, Cul, bagaimana keadaan pertempuran kita?
SI PACUL : Bermula marilah kita sebentar mengheningkan cipta buat ribuan rakyat dan prajurit perwira Indonesia yang tewas dalam medan pertempuran. Kedua, marilah kita peringatkan pula bahwa kini tiga setengah bulan Republik Indonesia berdiri. Bandingkanlah perubahan jiwa Rakyat Indonesia, di masa 3½ abad di bawah telapak imperialisme Belanda dan 3½ tahun di bawah telapak imperialisme Jepang dengan 3½ bulan di bawah iklim kemerdekaan.
SI TOKE : Berbeda Cul, seperti siang dan malam. Jiwa berserah sekarang menjadi jiwa dinamis berontak. Semangat takluk dan percaya pada pimpinan asing, sekarang bertukar menjadi semangat melawan dan percaya pada pimpinan negara sendiri, sama diri sendiri, bahkan sama tombak bambu dan golok sendiri. Siapa sangka Cul, penjelmaan yang begitu besar bisa terjadi dalam tempo sependek itu.
MR. APAL : Baru saja saya kembali dari perjalanan dari Anyar ke Surabaya. Terlampau melebihi kalau saya katakan bahwa sepanjang jalan tiap-tiap km diperhentikan. Oleh siapa? Bukan oleh musuh polisi Belanda atau kempei Jepang. Melainkan oleh rakyat jelata Indonesia atas dorongan kalbunya sendiri. Siang malam mereka berjaga-jaga mengawasi mata-mata musuh yang memang berkeliaran mencari-cari kelemahan.
DENMAS : Di masa Diponogoro cuma rakyat Jawa Tengah saja yang berjuang, tak pula seluruhnya. Di masa Imam Bonjol cuma sebagian kecil rakyat Minangkabau yang bertempur dengan Belanda. Di masa Teuku Umar, cuma rakyat Aceh saja yang berperang. Tetapi sekarang seluruh Jawa sudah bertempur. Seluruh Sulawesi, seluruh Kalimantan, dan seluruh Sumatera sedang bangun serentak mengikuti jejaknya Jawa
MR. APAL : Perjuangan sekarang ialah perjuangan nasional yang sebenarnya! Inilah yang diimpikan oleh kaum nasionalis semenjak 40 tahun ini.
SI TOKE : Perjuangan Indonesia sudah betul-betul menjadi perjuangan internasional. Dewan Selong menyatakan simpatinya terus terang berpihak Indonesia. Buruh Australia memergoki kapal Belanda yang mengirimkan senjatanya ke Indonesia buat memukul Republik Indonesia. Tentara Australia membantu pemberontak Indonesia di Kalimantan. Rusia dan Tiongkok mengakui Republik Indonesia. Dari Amerika pun terdengar suara simpati dari sebagian penduduk di sana. Begitu pula dari sebagian kaum buruh Inggris. Tetapi Cul, apa jawabnya pertanyaan saya yang bermula? Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan pertempuran kita?
SI PACUL : Semuanya yang direntangkan di atas memang berhubungan rapat dengan keadaan kita sekarang. Tentang keadaan pertempuran lebih kurang amat menyenangkan. Kabar radio dan kabar temanku yang baru kembali dari Surabaya mengatakan bahwa Surabaya yang hampir rusak binasa itu sudah digenangi air. Inggris dan Gurkha-nya boleh terus menduduki Surabaya tetapi tank, truk, dan meriam besarnya baiklah mereka angkut saja ke tempat yang kering. Sebagian besar dari rakyat yang tak ikut bertempur sudah menyingkirkan diri. Biarlah Inggris-Nica dan seluruhnya insyaf bahwa rakyat Indonesia selain jiwa raganya juga siap sedia mengorbankan semua. Katanya buat membela kemerdekaan negaranya. Rakyat Indonesia juga insyaf bahwa di luar kota “mesinnya” tentara Inggris yang modern itu sudah kalah, mustahil berjalan terus!
SI TOKE : Bagaimana keadaan di lain tempat?
SI PACUL : Magelang, bekas benteng Belanda yang dahulu amat kuat itu sudah kita rebut kembali. Tentara Inggris sekarang terkepung dalam rawa, juga benteng Belanda, yang dahulu dianggap kuat. Di Jakarta dan sekitarnya pertempuran hebat terus menerus berlaku. Di Bandung dan sekitarnya, rakyat mendesak ke dalam kota. Di mana-mana gedung besar-besar dipertahankan oleh pemuda dengan gagah berani, di luar dugaan bermula. Di Bandung pemuda-pemuda pun tak ketinggalan. Seringkali Jepang dipakai oleh Inggris melawan Indonesia. Begitu keadaan di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Umumnya tentara Indonesia lebih ulung dan lebih berani dari tentara Inggris-Belanda. Tetapi kekuatan senjata tak berbanding. Tank Inggris bermaharajalela di jalan raya, meriam besar mereka tak ada lawannya. Kapal terbang dan kapal perang amat leluasa. Walaupun begitu tak sedikit tank yang ditangkap, kapal perang ditenggelamkan, dan kapal terbang ditembak jatuh oleh prajurit kita. Bermacam-macam senjata, seperti pistol, senapan mitraliur, meriam dll dirampas oleh rakyat jelata dengan bambu runcing, golok dan tinju saja.
SI TOKE : Jadi rupanya rakyat Indonesia dengan tombak bambu, golok dan tinju melawan Inggris-Nica-Jepang yang bersenjata modern buat tentara darat, laut dan udaranya!
SI PACUL : Tetapi ada senjata yang tak ada pada mereka dan ada di pihak kita.
SI TOKE : Apa Cul?
SI PACUL : Kebenaran! Keadilan! Akhirnya, Rakyat Murba!
B. DIPLOMASI dan DIPLOMASI
SI PACUL : Aku yakin bahwa kita dalam kebenaran dan keadilan. Aku juga percaya bahwa rasa kebenaran dan keadilan yang ada bersarang dalam hati sanubari rakyat di negara luar, akhirnya kan menyambut teriak kebenaran dan keadilan dari pihak kita. Lagipula kita sudah yakin bahwa Rakyat Murba kita tak menghitung laba rugi lagi dalam melaksanakan perasaan kebenaran dan keadilan itu. Tetapi diplomasi apa yang mesti kita jalankan supaya perjuangan rakyat sekarang ini berhasil, inilah yang saya ingin dengar dari Tuan sekalian yang hadir di sini.
SI TOKE : Memang diplomasi itu penting sekali. Denmas memang beradik berkakak dengan diplomasi. Cobalah bentangkan paham Denmas perkara diplomasi itu lebih dahulu.
DENMAS : Yang menjadi dasar diplomasi itu buat saya ialah kekuatan kita sendiri. Diplomasi itu mesti kita jalankan menurut kekuasaan kita sendiri, berbanding dengan kekuatan musuh. Kekuatan kita seperti sudah dijelaskan tadi, di udara, di laut, di darat adalah kurang sekali daripada musuh.
SI TOKE : Jadinya kita mesti bertekuk lutut lebih dahulu? Kemudian tunggu saja apa yang dihadiahkan oleh Sekutu kepada kita?
DENMAS : Oh, tidak.... tidak persis begitu!
SI PACUL : Jadi bagaimana persisnya Denmas?
DENMAS : Sebab dengan kekerasan kita agak susah mendapatkan pengakuan dari negara luar, maka diplomasi kita juga mesti disandarkan atas simpati luar negeri.
SI GODAM : Pengakuan luar negeri itu bukanlah syarat hidupnya Republik Indonesia.
SI PACUL : Diam dulu, Dam! Aku sudah maklum mau ke mana engkau pergi.
SI TOKE : Memang kita mau mendapatkan simpati dari semua negara lain di dunia. Kalau kita tidak bisa mendapatkan simpati dari semua negara lain, cukuplah sudah dari Sekutu saja. Tetapi bagaimana jalan mendapatkan simpati Sekutu itu?
DENMAS : Tuhan membentuk manusia serupa dengan bentuknya sendiri. Sekutu juga akan lebih menyetujui bentuk negaranya sendiri. Sekutu sudah berperang menghancurkan fasisme. Sekarang bentuklah negara yang tiada bercorak fasisme! Tentu akhirnya Sekutu akan akui.
MR. APAL : Memang bentuk Republik dan isi demokrasilah yang cocok dengan perasaan Sekutu. Maka dari itu marilah kita adakan tata negara yang demokratis, pemerintah yang dipilih menurut kehendak rakyat. Akhirnya perlakukanlah rakyat asing di negara kita ini menurut Undang-Undang Internasional dan akuilah kehendaknya Sekutu! Dengan begitu kita akan mendapat simpati, persetujuan, dan pengakuan dari Sekutu.
SI TOKE : Tetapi bagaimana kalau Inggris mau memakai Belanda- Nica sebagai perisai? Bagaimana kalau Inggris seperti imperialismenya di Afrika, Asia, dan Indonesia, membikin perjanjian buat diinjak-injak dan menipu saja? Di mana imperialisme Inggris pernah berlaku jujur terhadap bangsa berwarna? Apakah kita sendiri tidak akan dianggap berkhianat terhadap Negara Indonesia, jika kita sandarkan sikap kita atas kepercayaan pada kejujuran satu imperialisme yang belum pernah berlaku jujur, dalam sejarahnya yang sudah kita kenal?
SI PACUL : Inggris katanya diserahi oleh Sekutu pekerjaan buat melucuti senjata Jepang. Tetapi di mana-mana Inggris mengadu Jepang dengan Indonesia. Di Magelang dan Semarang Jepang dibohongi oleh Inggris. Katanya orang Indonesia sudah membunuh para pembesar Jepang. Di Bandung Jepang tiba-tiba menyerang rakyat atas persetujuan Inggris. Di Pesing, dekat Jakarta, serdadu Jepang diperintah oleh Inggris menembak orang Indonesia. Begitu pula di Palembang dan semua tempat lain. Berapa ribu rakyat Indonesia mati karena politik Inggris mengadudomba Jepang dengan rakyat Indonesia.
SI TOKE : Sebenarnya Republik Indonesia bisa, wajib, dan berhak melucuti senjata Jepang. Itu mulanya dilakukan oleh rakyat Indonesia di Surabaya, Yogyakarta, Magelang, Bandung, dan Malang. Semuanya bisa berjalan baik, kalau di belakangnya Inggris tidak memerintahkan Jepang menggempur rakyat Indonesia.
SI PACUL : Lagipula Inggris katanya cuma mau melayani orang tawanan Eropa! Tetapi apa yang dikerjakannya? Inggris memasukkan Nica bersenjata lengkap dari luar negeri buat menghancurkan Republik Indonesia. Dia memakai organisasi damai seperti Palang Merah dan RAPWI buat mempersenjatai dan mengerahkan tawanan Belanda buat menyerang rakyat Indonesia di mana-mana.
SI TOKE : Satu kali Inggris duduk di satu tempat, di sana Nica keluar, memperkosa merampas harta dan menembaki rakyat Indonesia. Apalagi tempat itu kacau, karena rakyat Indonesia melawan, maka Inggris adakan pemerintah militer. Ini artinya membatalkan pemerintah Republik.
SI PACUL : Jadi teranglah sudah maksud Inggris yang sebenarnya ialah: Duduki satu kota Indonesia, keluarkan Nica buat mengacau dan adakan pemerintah militer. Kalau semua tempat penting sudah diduduki tentara Inggris, ketentraman tercapai, maka dari kantongnya imperialisme Inggris akan dikeluarkan bonekanya, yakni Nica. Sesudah beres maka kapitalis kebun, minyak, dan pabrik Inggris akan kembali ke Indonesia menguasai arah-arahnya hasil Indonesia dan menguasai hasil itu sendiri, lebih dari sebelum masa perang. Bersama dengan jagoannya Belanda maka rakyat Indonesia akan diperas, ditelanjangi, dan ditendangtendang buat membangunkan negeri Belanda dan Inggris yang jatuh ke lembah kemiskinan dan kemelaratan itu.
SI GODAM : Bajing itu bisa hilang bulunya, tetapi tak akan hilang nafsunya buat mencuri kelapa. Selama giginya ada, tak ada kelapa yang boleh dipercayakan kepadanya. Muslihat yang benar ialah mencabut giginya atau memotong lehernya sama sekali.
SI PACUL : Perumpamaan lagi. Pastikan saja!
SI GODAM : Selama peraturan ekonomi, politik, dan sosial Inggris masih seperti sekarang, yaitu kapitalis, selama itulah pula nafsunya buat menjajah negara lain bergelora. Imperialisme Inggris bisa pura-pura jujur kalau ada “pelor” di depan dadanya. Persis seperti kucing patuh jinak selama ada tongkat di depannya. Begitu juga Belanda.
SI PACUL : Betul sekali ususnya prajurit Inggris dan Belanda tak kuat menghadapi pelor Jepang pada peperangan di Malaka dan Indonesia. Sekarang pun ususnya kendor kalau bertemu muka dengan prajurit Indonesia. Golok atau bambu runcing saja sudah membikin serdadu Inggris atau Nica gementar seperti tikus melihat kucing. Belum pernah tentara Inggris atau Nica dalam perjuangan seorang lawan seorang. Tetapi dalam tank baja dan kapal udara yang terbang tinggi mereka amat berani.
SI GODAM : Tetapi muslihat kita tak bersandarkan senjata lahir semata-mata.
SI PACUL : Apa senjata muslihat kita?
SI GODAM : Pertama keyakinan dan konsekuensi. Syarat adanya Republik Indonesia terletak semata-mata atas kemauan rakyat Indonesia saja. Pengakuan negara lain tiadalah menjadi syarat adanya republik kita. Melainkan syarat buat berhubungan baik dengan negara lain. Berhubung dengan sahnya Republik Indonesia menurut keyakinan kita, maka diplomasi kita mesti dipusatkan pada daya-upaya lahir dan batin memberi keyakinan pada dunia lain, bahwa kita mau dan bisa berlaku sebagai satu Negara Merdeka yang mempunyai “kehormatan atas diri sendiri”.
SI PACUL : Jadi dengan berpikir, berkata, dan berlaku seperti orang merdeka, kita bisa merebut hati, simpati, persetujuan, dan pengakuan Rakyat Merdeka atau Rakyat yang mau Merdeka di dunia luar.
SI GODAM : Tepat Cul! Bukan dengan sikap masa bodoh dengan tipuan dan kecerobohan negeri asing “Kalau sudah ditipu terus percaya. Sudah ditendang terus minta terima kasih”. Sikap budak semacam itu tidak akan mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka, melainkan sebagai budak, lagipula persetan sama putusan Sekutu, yang tidak diketahui apalagi disetujui oleh rakyat Indonesia, nyata pula negara besar seperti Rusia, Tiongkok, dan Amerika tiada menyetujui tindakan Inggris, perfide Albion itu. Diplomasi Indonesia Merdeka bukanlah diplomasi mengemis dan menerima! Diplomasi berjuang dan merebut, itulah diplomasi kita.
II.
Kemungkinan

SI GODAM : Laba rugi dalam suatu perjuangan itu memang mesti diakui lebih dulu sebelum perjuangan itu dilakukan.
SI PACUL : Bagaimana kemungkinan itu buat kita, Dam?
SI GODAM : Kemungkinan itu mesti dihubungkan dengan beberapa perkara yaitu: 1. perkara bumi iklim (geografi) 2. keadaan internasional 3. cacah jiwa (man power) 4. kebatinan (moral) 5. kemiliteran 6. kecerdasan 7. disiplin 8. persatuan 9. organisasi
SI TOKE : Jadi semuanya ada 9 (sembilan) perkara yang mesti kita periksa.
SI GODAM : Sebenarnya lebih! Tetapi buat sementara cukuplah yang 9 itu. Maksud kita dalam brosur ini juga bukan mengadakan penyelidikan yang sempurna. Melainkan buat memberi petunjuk sekadarnya saja. Penyelidikan yang lebih dalam dan lebih luas boleh diadakan di lain tempat dan di lain tempo.
SI PACUL : Cobalah periksa perkara itu satu persatunya.
SI GODAM : Dalam garis besarnya boleh dikatakan bahwa empat perkara yang bermula menguntungkan kita. Tetapi dalam 5 perkara di belakang kita banyak mempunyai kelemahan. Untunglah pula kelemahan itu bisa dilenyapkan sama sekali, asal saja kita mengerti dan mau.
SI TOKE : Mulailah memeriksa!
SI GODAM : Tidak perlu diperpanjang lagi bahwa bumi iklim membantu kita dalam perjuangan. Bumi iklim kita membiarkan padi, ubi, sayur tumbuh 12 bulan dalam setahun. Jadi terus-menerus. Sedangkan di hawa dingin, gandum, sayur itu dibiarkan tumbuh dalam enam bulan saja. Jadinya tak perlu mengadakan persiapan selama enam bulan bumi beristirahat. Sambil berjuang, pertanian bisa diteruskan. Pakaian boleh disusutkan kepada sarung dan celana pendek saja. Tak ada musim dingin yang akan mengirim kita ke liang kubur kalau tak berpakaian tebal dari bulu domba. Dalam hal menyesuaikan badan ke hawa kita, sudahlah tentu kita di pihak yang beruntung pula. Sebaliknya musuh yang dari iklim dingin mesti mengadakan persediaan-persediaan makanan, pakaian dll lebih dari kita. Lebih susah pula mereka menyesuaikan dirinya dengan bumi iklim kita yang umumnya panas itu.
SI TOKE : Pendeknya bumi iklim itu, apalagi jendral hujan di bulan duabelas dan satu berada di pihak kita!
SI GODAM : Keadaan Internasional! Walaupun belum begitu terang, karena kabar amat sedikit yang kita terima, tetapi keadaan internasional makin lama makin menguntungkan kita. Dalam garis besarnya dunia sekarang boleh dibelah dua. Pada satu pihak, ialah imperialisme Inggris-Amerika dengan punakawan yang diangkatnya kembali yakni Perancis dan Belanda yang sudah kapok tadi. Pada pihak lain ialah Soviet-Rusia di samping beberapa negara kecil di Eropa yang merasa tertindas dan seluruh bangsa berwarna yang dijajah di Asia dan Afrika. Tetapi imperialisme Anglo- Amerika itu bukanlah kekuatan bulat dan tetap. Dalam badannya sendiri kapitalisme Inggris-Amerika itu terbagi atas dua golongan bertentangan, yakni kaum proletar dan kaum hartawan (borjuis).
SI PACUL : Jadi salahlah pengiraan orang yang membulatkan saja kekuatan kapitalisme Inggris dan Amerika itu.
SI GODAM : Memang salah! Orang yang berpikir secara mesin memang tidak atau kurang sekali memperhatikan pertentangan. Pertentangan itu sehari demi sehari bertambah tajam. Perjuangan Republik Indonesia bukan “tiada” mempengaruhi pertentangan di dunia luar itu. Percayalah bahwa kelanjutan perjuangan Indonesia Merdeka akan memperdalam dan memperluas pertentangan itu. Pertentangan itu mungkin menguntungkan Indonesia.
SI PACUL : Perkara ketiga, cacah jiwa, bagaimana?
SI GODAM : Praktis 70 juta rakyat Indonesia bisa menggerakkan 14 juta orang. Yang paling kuat buat penyerbuan saja ada 7 juta orang. Andaikan musuh bisa memasukkan 200.000 serdadunya ke Indonesia, jadi satu musuh mesti menghadapi 35 orang Indonesia, bulatkan 36 orang. Apa artinya kelebihan bilangan itu?
SI TOKE : Ya, apa artinya man power, kekuatan orang itu?
SI GODAM : Andaikan (buat memudahkan berpikir saja) satu orang Gurkha bersenjata tommy-gun dikepung oleh 35 orang bergolok dan bambu runcing (andaikan orang Indonesia tak mempunyai granat tangan, bom pembakar mitraliur, ataupun bedil atau meriam). Yang punya 35 bambu runcing, yang mengepung satu Gurkha itu bergiliran menurut tiga rombongan. Tiap-tiap hari selama 24 jam perkelahian terus menerus. Apa akibatnya? Prajurit Indonesia bisa tidur dan beristirahat, si Gurkha mesti terus menerus berjaga- jaga. Tiap-tiap rombongan Indonesia yang terdiri dari 12 orang itu bisa bergiliran tiga kali sehari untuk menjaga satu orang Gurkha. Satu giliran 12 orang cuma selama 6 jam. Jadi tiap-tiap giliran, maka 12 orang Indonesia cuma perlu bertempur 8 jam saja dan kelak bisa 16 jam sehari mengaso atau tidur. Sedangkan satu Gurkha satu Inggris atau satu Nica mesti terus menerus 24 jam sehari menjaga 12 golok! Satu hari bisa berjalan dengan beres. Tetapi jika sampai dua atau tiga hari si Gurkha, Ingggris atau Nica terus menerus menjaga 12 tombak atau golok, maka mereka bisa mati, karena momok golok saja.
SI PACUL : Memang begitu dalam teori! Dan teori itu penting!
SI GODAM : Kalau teori itu dijalankan dengan kecerdasan mesti ada akibatnya yang baik. Perkara keempat, kebatinan tak perlu dituturkan panjang lebar. Laki perempuan, tua muda, orang Indonesia sekarang tak kalah lagi dengan rakyat yang serevolusinya di dunia ini di zaman manapun juga. Jadi empat perkara di atas yang amat penting sekali berada di pihak kita! Memang empat perkara itu lebih susah merombaknya, seandainya empat perkara itu tidak berada di pihak kita. Karena keempat perkara itu, terlebih tiga perkara pertama, adalah di luar kekuasaan kita (lebih obyektif).
SI PACUL : Apa artinya di luar kekuasaan kita?
MR. APAL : Memang tak bisa kita mengubah bumi iklim, keadaan internasional, dan cacah jiwa itu, yaitu secara lekas dan langsung.
DENMAS : Memang syukurlah semuanya itu ada di pihak kita. Perkara keempat itu, kebatinan, kalau buat seorang saja memang bisa diubah. Tetapi kalau untuk 70 juta manusia tentulah mustahil bisa diubah dalam sehari, sebulan, ataupun setahun. Kini kebatinan itu pun ada di pihak kita.
SI PACUL : Sekarang cobalah selidiki 5 perkara yang tiada di pihak kita itu!
SI GODAM : Bukan sama sekali di pihak kita. Jangan kau salah mengerti, Cul. Sebagian ada di pihak kita. Tetapi memang kurang! Jadi perkara kelima, kemiliteran: kurang menyenangkan. Pertama, opsir yang sungguh menerima ilmu kemiliteran amat kurang sekali. Tetapi nyata di mana ada, opsir itu bisa dipakai. Walaupun “dai-dancho” cap Jepang cuma mendapat latihan beberapa bulan saja, tetapi sudah terbukti bisa dipakai dengan hasil memuaskan. Opsir rendahan latihan Jepang juga amat memuaskan. Apalagi prajurit biasa! Beberapa prajurit biasa yang sudah pecah sebagai ratna! Sungguh menggembirakan dan memberi harapan besar buat tentara Republik Indonesia di hari depan.
SI TOKE : Aku pikir begitu juga. Sudah 22 hari sampai sekarang kita bisa tahan serangan serentak dari darat, laut dan udara Inggris. Dengan pompa air saja dulu Belanda bisa mengacau- balaukan rakyat berkumpul. Teruskan Dam!
SI GODAM : Latihan juga amat pendek. Tetapi juga memuaskan. Yang tidak memuaskan tentulah persenjataan. Di laut kita tak berdaya. Di udara kita tak bisa bikin apa-apa. Terhadap mortir, tank, dan kereta baja kita dengan keberanian luar biasa saja bisa mendapat satu dua kemenangan. Pabrik senjata kita tak punya. Kita belum bisa bikin tank, meriam, kapal perang, dan kapal terbang.Walaupun ada barang kita buat dijual kita tak punya hubungan dengan dunia luar buat jual beli.
DENMAS : Memang semua itu masih terlampau kurang! Tetapi senjata penting buat rakyat, yang sudah mulai kita bikin sendiri.
SI TOKE : Perkara keenam, kecerdikan, bagaimana?
SI GODAM : Bukti saja! Ketika Nica bersarang dan menyerang di Kebayoran, maka berduyun-duyun rakyat Banten datang menyerbu. Mereka datang dalam rombongan, biasanya dikepalai oleh seorang Kyai. Tetapi satu rombongan sampai di Kebayoran menyerbu menang dan usir musuh dari bentengnya. Rombongan menang tadi kembali ke desanya dan tinggalkan benteng begitu saja. Kemudian Nica itu masuk kembali. Pasukan lain dari Banten datang pula menyerbu, menang...... kembali ke desa. Nica kembali! Demikianlah seterusnya, tak ada pergabungan (koordinasi) di antara pasukan dan pasukan kita. Tak pula ada “rencana” yang mesti pasti dijalankan dengan tanggung jawab yang pasti dan serempak.

MR. APAL : Sungguh banyak contoh yang membuktikan kekurangan kita dalam hal “kecerdikan” menyusun dan mengerahkan tenaga dan senjata peperangan itu. Di sini kita bisa mengadakan perubahan besar.
SI GODAM : Disiplin! Tentulah ini jiwanya suatu organisasi dan perjuangan. Tak perlu kita panjangkan uraian ini. Disiplin itu mesti berupa hubungan bapak dan anak, kakak dan adik. Tetapi bagaimana juga sifat disiplin itu mesti ada! Perintah dari pimpinan itu mesti dijalankan dengan baik. Kalau tidak mesti timbul kekacauan. Tiap orang akan bertindak sendiri-sendiri menurut tempo, tempat, dan cara yang ditentukan masing-masing. Perkara tata tanggung jawab, perkara memberi dan menerima perintah, perkara menjatuhkan dan menerima hukuman (disiplin) masih banyak sekali yang mesti diperhatikan. Tetapi dengan kelemahan disiplin kita itu, heran juga kita melihat hasil perjuangan yang begitu mengagumkan. Apalagi pula kalau disiplin itu dipererat. Perlukah sekarang saya rundingkan perkara kedelapan, persatuan?
SI TOKE : Dalam garis besarnya perlu juga! Persatuan yang rapi antara pulau dan pulau amat terganggu. Itu tak mengherankan. Kita tak mempunyai armada yang kuat menjaga persatuan itu. Alangkah kuatnya Indonesia kalau armada buat memelihara persatuan itu ada! Sekarang persatuan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku cuma dalam batin saja. Seberang yang sana jiwa hasratnya dengan Jawa dengar dari jauh bagaimana Jawa bertindak dan ambil pula tindakan semacam itu. Rencana bersama dibikin bersama dan dijalankan bersama serentak tak bisa dilakukan sekarang! Jangankan persatuan antara seberang dan Jawa! Antara provinsi dan provinsi saja di Jawa ini, malah antar daerah dan daerah (keresidenan) masih banyak kekurangan. Yang tak kurang menyedihkan pula ialah persatuan berembuk dan bertindak antara jabatan Negara. Kurang adanya persatuan Pemerintah Pusat dan Rakyat. Kurang persatuan Pemerintah Pusat dan Provinsi atau Daerah. Kurang persatuan antara Jabatan Politik. Jabatan Pertahanan Perekonomian di pusat, di provinsi ataupun kota.
SI PACUL : Sesudah kau sebut semuanya itu menjadi kusut hatiku, Dam. Akupun bisa tambah dengan beberapa contoh. Betapa tipisnya semangat kerja sama di antara awak sama awak. Belakangan ini ada penyakit baru: curiga mencurigai, tuduh menuduh, dan tangkap menangkap, culik menculik.
SI TOKE : Memang itu kemenangan musuh sampai sekarang! Daerah yang diduduki hampir tak ada artinya selama kita bersatu. Tetapi kalau racun perpecahan itu terus bermaharajalela di dalam barisan kita, maka akan berlaku kebenaran pepatah: “Bersatu kita kokoh berpecah kita roboh.”
MR. APAL : Mata-mata musuh itu memang satu bahaya yang mesti dibasmi. Tetapi janganlah “kecurigaan semata-mata” (kecurigaan melulu) yang menjadi dasar penyelidikan. Dasar kecurigaan melulu itu dari seseorang ke orang lain, tentulah menimbulkan kecurigaan si lain itu terhadap seseorang tadi pula, begitulah tak akan ada lagi orang yang percaya pada yang lain malah pada dirinya sendiri. Dalam hal itu kecurigaan menjadi penyakit yang tak terbasmi lagi dan memudahkan pekerjaan musuh yang selalu mengintai-intai saja, buat mengadudomba awak sama awak. Akhirnya kita sama kita akan bertempur seperti di zaman lampau.
SI TOKE : Bagaimana membasmi penyakit curiga mencurigai itu?
MR. APAL : Beranikanlah hati melihat tiap-tiap warga itu sebagai teman seperjuangan. Tenangkan pikiran menghadapi “bukti” yang dituduhkan terhadap seseorang Indonesia, apalagi kalau ia seorang yang pernah atau sedang bertempur di garis depan atau seorang pemimpin. Pisahkanlah tuduhan seseorang yang maksudnya cuma menaikkan diri sendiri dengan jalan menurunkan orang lain! Periksalah semua tuduhan dengan teliti. Baru kalau sah buktinya, jatuhkan hukuman yang sepadan dengan kesalahannya. Cuma kalau seorang Indonesia dalam suatu pertarungan mengerjakan pekerjaan penghianat maka dia dilayani secara kita melayani pengkhianat dengan tangkas dan hebat. Jika masih ada tempo mesti diadakan pemeriksaan yang seksama, sekali-kali kehormatan si tertuduh tak boleh diganggu.
DENMAS : Memang kita bertarung buat kehormatan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Marilah lebih dahulu kita menghormati tiap-tiap warga negara republik, malah tiaptiap manusia!
SI PACUL : Delapan perkara sudah kau ajukan Dam! Kurasa betul bahwa empat perkara yang amat menguntungkan kita ialah: perkara bumi iklim, keadaan internasional, cacah jiwa, dan kebatinan. Benarlah pula bahwa lima perkara di belakangan, yakni perkara “kemiliteran, kecerdasan, dan organisasi” masih belum memuaskan sama sekali.
SI TOKE : Tetapi Godam, belum lagi engkau menguraikan organisasi.
SI GODAM : Sebenarnya perkara organisasi berseluk beluk juga dengan kemiliteran kita, kecerdasan, disiplin, dan persatuan. Berhubung dengan itu, maka kelemahan yang masuk dalam empat perkara tersebut masuk juga ke dalam kelemahan organisasi. Lagipula organisasi itu mengandung banyak perkara lain-lain yang amat penting artinya buat perjuangan. Sebab itu baiklah berikan pemandangan teristimewa tentang organisasi itu.

III
Organisasi
SI PACUL : Organisasi juga kita sebut susunan, bukan? Apa bentuknya organisasi kita itu dan apa isinya, Dam?
SI GODAM : Kita sekarang dalam masa perperangan yang tidak dipermaklumkan! Tetapi tetap peperangan tulen, peperangan modern. Jadi bentuk yang cocok dengan keadaan ialah “Organisasi Rakyat Berjuang”. Isi susunan kita ialah “tuntutan perjuangan” kita pertama: MERDEKA 100%. Terus sesudah merdeka 100% mendirikan masyarakat sosialistis berdasarkan industri berat nasional.
SI TOKE : Jadi dua tingkat itu mesti dipisahkan? Dalam tingkat pertama, seperti sekarang berada dalam perjuangan merebut MERDEKA 100 % begitukah?
SI GODAM : Benar, mesti dipisahkan, tetapi tak bisa diceraikan. Apa yang dimaksudkan pada tingkat kedua itu, sebagiannya sudah boleh malah mesti dijalankan pada tingkat pertama.
SI PACUL : Apakah Organisasi Rakyat Berjuang menghadapi tiga negara itu, sesudah maksud kita tercapai akan terus berdiri, atau akan ditukar dengan susunan lain?

SI GODAM : Cul, jauh benar perginya pertanyaanmu itu. Boleh kujawab bahwa dalam tingkat berjuang buat MERDEKA 100% itu “seluruh” Rakyat Pemberontak patut disusun dalam satu “KALANGAN” (platform). Dalam masa MERDEKA 100% boleh jadi tak semua anggota patut mau atau bisa dalam Organisasi Rakyat Berjuang tadi. Barangkali, bahkan mestinya ada anggota yang tak cocok sama sosialisme, atau tak cukup kuat iman buat mendirikan Industri Berat Nasional. Dalam hal itu, kalau perlu dan tak merugikan Indonesia Merdeka, biarlah sebagian itu keluar dari Organisasi Rakyat Berjuang dan mendirikan partai baru. Tetapi begitu perkara nanti. Saya pikir dalam pancaroba sekarang dan sepuluh tahun atau lebih sesudah Indonesia Merdeka 100%, maka paling baik kalau di Indonesia cuma ada satu “Partai Murba” saja. Putusan bisa lekas diambil dan kesalahan bisa lekas diperbaiki, percekcokan satu partai dengan partai lain seperti dalam negara berparlemen bisa dihindarkan. Semakin kurang percekcokan, semakin lekas mengambil keputusan dan semakin cepat menjalankan suatu putusan dan memperbaiki sesuatu kesalahan, semakin lekas sampainya Indonesia Merdeka ke zaman KEAMANAN. Seperti sudah saya bilang di tempat lain, “Keamanan” itu baru mungkin ada sesudah Indonesia Merdeka memiliki dan menyelenggarakan sendiri Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Terlampau panjang kau bicara ini kali, Dam. Tunggu dulu! Kuulang sekali lagi.
SI TOKE : Ya, ulang lagi, Cul. Aku juga bingung!
SI PACUL : Pertama sekali rupanya Dam, masa (periode) perjuangan kita kau bagi dalam dua tingkat besar! Pertama menuju ke arah MERDEKA 100%. Kedua menuju ke arah keamanan, ialah ber-Industri Berat Nasional.
SI GODAM : Benar, Cul itu sudah kusebut lebih dahulu! Mendirikan Industri Berat Nasioal itu masih kuhitung sama berjuang.
SI PACUL : Memang sudah kau sebut Dam. Tetapi perlu diulangi lagi buat titik melompat. Jadi Dam, kedua engkau bedakan pula arti “Kalangan” dan Partai. Rupanya “Kalangan” itu ialah medan perjuangan beberapa golongan masyarakat yang dalam arti khusus mempunyai berlain-lain hasrat, tetapi dalam arti umum mempunyai satu hasrat saja, ialah Indonesia Merdeka 100%.
SI GODAM : Seperti biasa engkau jitu Cul! Boleh juga dibilang engkau itu ahli mamah! Gampang sekali engkau mengartikan dan melaksanakan sesuatu paham.
SI PACUL : Lu, Dam! Aku bukannya lembu atau kambing Dam! Buat meneruskan golongan tadi, bukanlah Denmas masuk golongan Ningrat? Sekarang Denmas ingin Merdeka 100%, tetapi sesudah Merdeka 100% itu bukanlah Denmas mengidamkan suatu “Kerajaan”?
DENMAS : Jangan begitu Cul! Aku juga akan menyokong pemerintah proletar! Malah aku akan ikhlas memulangkan semua tanahku kepada proletar tanah.
SI PACUL : Kupegang perkataan itu Denmas! Aku tahu engkau jujur. Tetapi bagaimana golonganmu, golongan ningrat umumnya? Kuteruskan pula! Mr.Apal tentu keberatan atas konfiskasi (penyitaan) Perusahaan Bangsa Asing yang sudah memerangi kita yang membunuh perempuan dan anak-anak kita yang tak berdosa itu?
MR. APAL : Asal jangan membahayakan kedudukan kita sebagai negara merdeka, akupun tak keberatan menyita perusahaan asing yang ceroboh memerangi rakyat Indonesia!
SI PACUL : Kupegang pula perkataan itu, Mr. Apal. Kuharap semua golongan tuan akan menyetujui politik sitaan itu. Walaupun begitu, bukanlah mungkin banyak di antara kaum cerdas (intelek) dan borjuis umumnya yang ngeri menghadapi politik “sitaan” itu?
MR. APAL : M u n g k i n !
SI PACUL : Toke, sekarang buat engkau! Bukankah ada di antara golongan tengah yang tak akan cocok dengan diktator proletar? Artinya itu kalau perlu kaum proletar mesin dan tanah sementara tempo mengadakan pemerintahan berdasarkan “kediktatoran” dari kelas proletar mesin dan tanah. Saya bilang kalau perlu.
SI TOKE : Kalau buat saya Cul, apa saja pemerintahan kuterima. Asal cocok dengan keamauan golongan rakyat yang bertambah dalam negeri dan bisa membawa kita ke arah Merdeka 100% dan Indonesia Merdeka ber-Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Percaya aku akan perkataanmu, Kek! Tetapi tak semua golongan kaum tengah berpaham seperti kau. Mungkin banyak yang tak setuju dengan pahammu itu.
SI TOKE : M u n g k i n !
SI PACUL : Mungkin juga setelahnya Indonesia Merdeka 100%, engkau Kek, malah bersama Mr. Apal dan Denmas, tak mengucapkan merdeka lagi kepadaku dan kepada Godam... dan terus jalan perpisahan atau..... (Denmas, Mr. Apal, Toke serentak memprotes!).
SI GODAM : Cul, gara-garamu itu baik jangan diteruskan. Bisa mendatangkan salah paham. Kembalilah kau pada pembicaraan bermula.
SI PACUL : Aku tahu Toke, Denmas, dan Mr. Apal orang jujur. Sebab itu pula kuberani bergara-gara. Pendeknya dengan mereka seperti yang hadir sekaranglah kita membikin satu Kalangan. Jadi Kalangan itu mengikat golongan ningrat, borjuis proletar mesin dan tanah yang berhasrat Indonesia Merdeka 100%. Bukanlah begitu maksudmu, Dam? Hasrat “Kalangan” ini ialah HASRAT PERSAMAAN di antara beberapa golongan rakyat. Berbeda dengan hasratnya satu partai yang biasanya mengenai hasratnya satu golongan saja. Saya bilang biasanya, umpamanya kelas proletar saja atau kelas borjuis saja. Bukan begitu, Dam?
SI GODAM : Tepat, Cul, benar pak!
SI TOKE : Jadi kita perlu satu “Kalangan” di masa berperang ini dan “mungkin” memakai satu partai saja di zaman pembangunan Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Sekarang bagi kita yang berada dalam peperangan melawan tiga negara ini (2 Desember 1945), seandainya “sudah mempunyai satu Kalangan Rakyat Berjuang”, apalagi yang penting, Dam?
SI GODAM : Yang paling penting tentulah kontak, yakni ikatan erat di antara kalangan tadi dengan Rakyat Murba. Kalau ikatan itu tak ada atau kalau ada tetapi tidak erat, maka pada suatu perjuangan mungkin kalangan tadi berada jauh di depan rakyat. Atau jauh di belakang rakyat. Itu berbahaya sekali. Hal ini mesti disingkiri.
SI PACUL : Tentu begitu! Kalau Rakyat Murba terlampau ke muka, karena kalangan berada terlalu di belakang, atau sebaliknya kalau Rakyat Murba terlampau di belakang karena kalangan terlampau di depan, maka itu berarti Rakyat Murba tak mempunyai pimpinan yang dibutuhkan. Rakyat Murba dalam hal itu gampang terjerumus!
SI TOKE : Bagaimana mengadakan ikatan yang erat itu?
SI GODAM : Carikan besi berani yang menarik dan mengikat dirinya dengan besi lain!
SI PACUL : Perumpamaan lagi, Dam. Bilangkan yang pasti nyata saja!
SI GODAM : Carilah sesuatu tuntutan yang bisa mengikat pikiran perasaan dan kemauan, pendeknya yang mengikat juga Rakyat Murba.
SI PACUL : Di desaku, Pak Kyai memajukan perang sabil!
SI TOKE : Kaum pedagang ingin berparlemen!
MR. APAL : Memang Badan Perwakilan Rakyat itu dirasakan betul oleh Rakyat.
SI GODAM : Ada tuntutan lahir yang tarikannya kuat seperti besi berani. Buat proletar tani, apa tuntutan yang lebih menarik daripada “tanah”?
SI PACUL : Tanah buat yang tak punya tanah, tentulah nasi buat yang lapar.
SI GODAM : Kita percaya kepada idealisme. Tetapi idealisme itu mesti berdasarkan materi, yakni benda dan kenyataan. Nasi itu adalah benda yang nyata. Bisakah orang berpikir kalau perut lapar? Apakah tuntutan berupa hak lahir yang nyata?
SI PACUL : Benar pikiranmu, Dam. Tetapi apa tuntutan yang nyata buat golongan proletar mesin yang mengambil bagian besar dalam perjuangan kita ini?
SI GODAM : Di masa damai tuntutan proletar pada masyarakat kapitalistis tentulah: naik gaji, kurang lama kerja, perbaikan rumah dll, berkumpul bersidang, dan sebagainya. Tetapi sekarang semua perusahaan besar di daerah Republik sudah dimiliki oleh Republik, oleh kaum proletar sendiri. Tuntutan proletar cuma campur mengurus produksi dan distribusi. Kalau kelak Negara Republik Indoensia itu berdasarkan proletaris sudahlah tentu kaum proletar yang akan menguasai produksi dan distribusi. Negara Republik Indonesia niscaya akan berdasarkan proletaris, kalau kaum proletarlah yang menjadi pelopor pergerakan kemerdekaan ini. Di Surabaya memang proletar mesinlah yang paling terkemuka dan paling tahan dalam semua perjuangan yang seru sengit.
SI PACUL : Jadi apakah tuntutan proletar di masa perang ini?
SI GODAM : Tuntutannya yang langsung tentulah terutama politik. Yaitu menuntut dicabutnya kembali tentara asing manapun juga. Baru tuntutan yang lain-lain bisa dijalankan. Baru kota dan pabrik yang sekarang di tangan musuh itu bisa dimiliki dan diselenggarakan oleh kaum proletar.
SI TOKE : Tuntutan “menyuruh mencabut kembali Tentara asing manapun juga” tentulah dirasa oleh semua golongan rakyat Indonesia. Jadi tuntutan ini boleh jadi tuntutan “kalangan”. Artinya dirasakan oleh semua golongan dalam kalangan.
SI GODAM : Ada beberapa tuntutan lain dan akan dirasa, yang bisa mengikat kemauan pikiran dan jiwa semua golongan rakyat yang memberontak.
MR. APAL : Baik susun saja nanti semua tuntutan itu sebagai Program Kalangan Rakyat Berjuang, dalam bagian teristimewa.
SI PACUL : Betul begitu. Cuma terangkanlah Dam, apa lagi yang kau rasa penting buat organisasi.
SI GODAM : Banyak lagi Cul! Cuma saya takut, kalau pembicaraan ini akan terlampau panjang dan membosankan.
SI PACUL : Kalau perlu diperpanjangkan, apa boleh buat, kita mesti cukup mengerti semua perkara yang berhubungan dengan organisasi itu.
SI GODAM : Sekarang “kalangan” sudah ada, tuntutan nyata sebagai “tali pengikat” sudah diketahui juga. Bagaimana pula sekarang mengikat rakyat Murba dan di mana ditaruh “tampuk murba”, yang memperhubungkan kalangan dan Rakyat Murba itu?
SI PACUL : Yang kau maksudkan dengan tampuk itu tentulah “sel” bukan?
SI GODAM : Betul Cul! Saya sebut tampuk buat menggambarkan bahwa Murba itu seolah-olah buah dan tampuk itu adalah sangkutan. Di situlah tali ikatan yang dibentangkan dari kalangan tadi disangkutkan.
SI PACUL : Bagus perumpamaanmu Dam, tetapi kurang nyata bagi saya.
SI GODAM : Begini Cul! Kalangan tak perlu dan tak mungkin bisa berhubungan langsung dengan rakyat Murba seluruhnya. Dia bisa cari beberapa orang jujur aktif pada tiap-tiap golongan Murba. Umpamanya di golongan pekerja beberapa orang itu bisa didapat dalam pabrik besi atau bengkel, di tambang arang atau minyak. Dua tiga orang jujur aktif itulah yang sel, yang tampuk. Dengan perantaraan dua tiga orang sebagai tampuk di kota Surabaya itu umpamanya bisa dimajukan tuntutan nyata. Dengan begitu seluruh perusahaan besi bisa bergerak, maju menyerang. Dengan dua tiga orang pada tampuk bisa perusahaan besi di Surabaya dikerahkan. Boleh jadi perusahaan besi mempelopori seluruh buruh Surabaya, pekerja minyak, listrik, kereta, dll. Baiklah pula tampuk itu dibikin di perusahaan lain di kota Surabaya itu, seperti di perusahaan minyak dan lain-lain tadi.
SI PACUL : Kalau begitu di golongan kaum tani perlu pula diadakan tampuk menurut tingkatan milik proletar tani (proletar tulen, setengah proletar, tani kecil [melarat] tani tengah dan besar).
SI TOKE : Di antara golongan kecil dan menengah majikan kecil dan tengah (besar tak ada atau tak berarti di Indonesia) mestinya ada pula tampuk!
SI GODAM : Jadi kalau sudah ada tampuk dalam golongan proletar mesin, proletar tanah, dan perusahaan kecil dan menengah maka dengan tuntutan nyata sewaktu-waktu Kalangan Rakyat Berjuang itu bisa memanggil dan mengerahkan rakyat Murba.
SI PACUL : Jadinya ikatan itu cuma dalam tempo menyerang musuh saja.
SI GODAM : Tepat pertanyaanmu, Cul! Tentulah tidak dalam waktu berjuang saja mesti ikatan itu ada. Dalam masa persiapan pun itu mesti ada.
SI PACUL : Apa ikatan itu di masa persiapan, di masa damai?
SI GODAM : Di waktu persiapan mesti ada selalu hubungan langsung antara Pusat Kalangan dengan Cabang dan tampuk di pabrik, bengkel, kebun, atau desa. Yang menghubungkan ialah “putusan” yang diambil oleh pusat yang mesti dilakukan oleh Cabang dan Tampuk. Sebaliknya pula mesti ada kritik dan usul dari pihak Tampuk dan Cabang ke Pusat. Kritik dan usul pun adalah perkara yang memperhubungkan Cabang atau Tampuk dengan Pusat. Putusan di atas mesti diambil sesudah mendengarkan kritik dan usul dari bawah dan dari para teman pengurus pusat. Apabila suatu putusan yang diambil secara demokratis, dalam hal berunding dan mengkritik, dimajukan ke Bagian Dalam Pusat ataupun ke Cabang dan Tampuk, maka wajiblah putusan itu dilakukan dengan jujur, teliti, dan rajin.Walaupun putusan yang sah demokratis itu tidak disetujui oleh suara terkecil (minority), maka wajiblah suara terkecil itu menjalankan putusan yang sendirinya tiada disetujui itu.
MR. APAL : Memang putusan dari suara terbanyak atas perundingan yang demokratis itu wajib dijalankan oleh seluruh anggotanya. Atas yang tiada menjalankan atau menyabot putusan itu mesti dijalankan disiplin. Kalau seorang dalam suatu perkumpulan cuma menjalankan suatu putusan yang dicocokinya sendiri saja maka kumpulan semacam itu tak mempunyai kekuasaan apa-apa.
SI PACUL : Mengertilah saya maksudnya disiplin dalam Kalangan Rakyat Berjuang itu. Apakah sudah habis perkara penting yang mesti dikemukakan?
SI GODAM : Mesti nyata, dirasa oleh pendengar. Dengan begitu siaran itu bisa membangunkan pikiran dan seluruh jiwa pendengar. Buat tani, kehidupan tani yang berhubungan dengan tanah, ternak, pekerjaan, dan kewajibannya terhadap negaralah siaran (propaganda) yang nyata bisa dirasa. Buat proletar mesin kehidupannya sebagai pekerja di samping mesinlah yang mengikat hati dan pekerjaannya. Begitu pula siaran di golongan kaum tengah, kehidupan yang mengikat perhatian dan pikiran sehari-harinyalah pula yang mesti dijadikan syarat-syarat siaran itu.
SI PACUL : Pendeknya terhadap Murba siaran yang nyata terasalah yang mesti kita lakukan. Tetapi apa isinya program buat Kalangan Rakyat Berjuang yang kau majukan tadi Dam?
SI GODAM : Baiklah diperundingkan program itu di waktu lain bersama-sama dengan susunan yang cocok dengan Kalangan Rakyat Berjuang itu.


IV
 Program dan Susunan Kalangan Rakyat Berjuang

A. PROGRAM
SI PACUL : Bolehkah kita pastikan, bahwa program itu ialah sarinya hasrat kita?
MR. APAL : Tak salah begitu, Cul.
SI TOKE : Cobalah susun sarinya program kita itu Dam!
SI GODAM : PROGRAM KALANGAN RAKYAT BERJUANG itu lebih kurang:
Mendirikan Pemerintah Berjuang oleh rakyat berjuang
Mendirikan Laskar Rakyat
Membagikan tanah pada tani melarat
Melaksanakan hak pekerja mengatur produksi
Melaksanakan Ekonomi Berjuang
Membersihkan Indonesia dari tentara asing
Melucuti senjata Jepang.
SI PACUL : Sedikit penerangan Dam! Baik juga kau batasi Pemerintah itu. Sungguh benar kalau kau sebut Pemerintah Berjuang. Pemerintah yang tiada berjuang bersama-sama dengan rakyat yang sedang berjuang itu adalah pemerintah yang mengharapkan hadiah dari atau kompromis dengan imperialisme ceroboh! Pemerintah berjuang itu mesti dipilih oleh rakyat berjuang pula. Mereka yang menunggu-nunggu kemenangan Inggris-Nica tiada berhak memilih Pemerintah Berjuang itu.
SI GODAM : Sebetulnya begitu Cul!
SI TOKE : Jadi Laskar Rakyat itu maksudnya ialah Laskar Rakyat Berjuang yang dipimpin oleh Pemerintah Rakyat Berjuang tadi. Laskar Rakyat itu mestinya lepas sama sekali dari pimpinan atau pengaruh semangat yang ingin “kompromis” atau takluk bertekuk lutut.
SI GODAM : Begitulah, Kek.
SI PACUL : Pembagian tanah itu ada sedikit sulit, Dam. Kepada siapa terutama dibagikan tanah itu? Apakah tanahnya ningrat juga sekarang mesti dibagi-bagikan?
SI GODAM : Dasar pembagian itu dalam garis besarnya yang berpunya kelebihan dikurangkan sampai cukup buat dirinya sendiri, buat dikerjakan sendiri. Yang kekurangan ditambah sampai cukup buat dikerjakan sendiri. Di mana ada satu golongan yang mau memiliki tanah itu bersama dan menyelenggarakan bersama, kemauan golongan itu harus dibantu.
SI PACUL : Jadi yang pertama mesti dikasih tanah ialah proletar tani, ialah tani yang tak punya tanah sama sekali. Kedua yang punya setengah cukup. Ketiga yang cukup, tetapi sederhana saja. Tapi tanah siapa yang mesti dibagibagikan itu?
SI TOKE : Sekarang engkau dapat bagian, Denmas.
DENMAS : Aku? Aku tidak keberatan!!
SI GODAM : Tanah Ningrat biasanya tak luas!
SI PACUL : Seandainya ada yang luas?
SI GODAM : Kalau Ningrat yang bertanah luas itu menentang Republik dan seorang kaki tanganya Nica, baiklah tanahnya dibagi-bagi.
SI TOKE : Semuanya tanah kapitalis asing dibagi-bagi pulakah?
MR. APAL : Memang patut kebunnya Inggris-Belanda yang sudah memerangi rakyat Indonesia itu disita saja. Mereka sudah memerangi kita dan mengambil puluh ribuan jiwa rakyat kita.
SI PACUL : Jadi kalau kita mengambil harta bendanya kapitalis ceroboh itu, yang sebenarnya tanah kita sendiri dan diusahakan oleh tenaga kita sendiri, pekerjaan kita itu tidak berlawanan dengan aturan internasional. Bukankah satu negara yang memerangi negara lain hartanya disita oleh negara lain itu?
SI GODAM : Siasat pembagian tanah itu mengandung dua maksud. Pertama, sebagai siasat kemakmuran. Ialah satu siasat yang dijalankan dengan maksud menambah kemakmuran. Dalam masa berjuang inipun hasil itu tak boleh dikurangkan. Kedua sebagai siasat memberontak. Apabila tanah itu diterima dan dikerjakan oleh seorang penentang imperialisme ceroboh maka pada ketika itulah pula dia menjadi seorang prajurit perjuangan yang taat setia pada kemerdekaan. Buat dia kemerdekaan itu berarti harta benda yang diperolehnya itu, yang mesti dipertahankan mati-matian. Kehilangan Kemerdekaan Indonesia buat dia berarti kehilangan mata pencaharian, yang sudah dipegangnya dan diselenggarakannya buat dia dan anak istrinya.
SI PACUL : Ringkasnya siasat pembagian tanah itu berwujud kemakmuran dan semangat perjuangan.
MR. APAL : Pabrik, bengkel, tambang, kereta dan lain-lain perindustrian sudah dimiliki oleh Republik. Apakah lagi tindakan yang sekarang mesti diambil?
SI GODAM : Selekas mungkin mereka mesti diberi hak mengatur produksi dan distribusi. Lagipula mereka mesti ditarik ke dalam badan politik, di kota daerah dan negara. Dengan begitu mereka betul-betul menjalankan hak mereka mengatur produksi, distribusi, dan politik. Dengan begitu mereka betul-betul merasakan hak mereka lahir-batin.
SI PACUL : Cuma dalam masa perjuangan ini mesti dipelajari lebih dahulu apa industri yang mesti diteruskan atau ditambah. Perdagangan dengan luar negeri sudah putus. Sebagian besar perindustrian Indonesia sekarang terhenti dengan terhentinya perdagangan dengan luar negeri itu. Perindustrian Indonesia di bawah Belanda didasarkan barang bahan dan barang yang diperniagakan ke luar negeri.
SI TOKE : Jadi perindustrian sekarang mesti dicocokkan dengan keperluan perjuangan saja.
SI GODAM : Tepat Kek. Ini menuntut pemeriksaan yang pertama, serta perundingan dan tindakan yang cepat tepat. Ini berhubungan dengan “Rencana Ekonomi” yang akan dibrosurkan pula. Dengan begitu maka Titik 6, yakni perkara melaksanakan Rencana Ekonomi Berjuang kita tunda ke lain waktu dan lain perundingan.
SI PACUL : Perkara 6, dan 7, yakni membersihkan Indonesia dari tentara asing dan melucuti senjata Jepang adalah akibat yang terdasar pertama oleh timbulnya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus dan kedua, oleh perebutan “agresif ” (ceroboh) dari pihak Inggris dan bonekanya Nica sendiri.
SI GODAM : Hak membalas “perang” dengan “perang” itu adalah cocok dengan hak mutlak dan kehormatan Negara Merdeka. Manusia Merdeka dan Berkehormatan itu juga berhak dan terus balas “jotos” dengan “jotos”. Di dunia hewan cuma anjing yang merangkak kembali kepada tuannya sesudah dipukul. Dalam masyarakat manusia cuma budak yang menerima pukulan dengan tidak melawan. Republik Indonesia Merdeka akan sendirinya terlempar ke jenis “anjing atau budak”, kalau “perang” tidak dibalas dengan “perang” pula. Tak ada pengakuan yang kita, Indonesia Muda, akan rebut dari hati sanubari Negara Merdeka dan Rakyat Merdeka di luar Indonesia.
SI PACUL : Benar! Negara dan Rakyat Merdeka di dunia ini akan jijik melihat sikap kita. Dalam hatinya mereka akan berkata: “Republik” Budak di Indonesia itu sudah sepantasnya “diakui”, tetapi bukan sebagai Negara Merdeka, melainkan sebagai Dominion, Gemennebest atau corak jajahan lain-lain buat diinjak-injak oleh Inggris atau Belanda selama dunia berkembang.
MR. APAL : Memang akibatnya pengakuan kita atas kemerdekaan kita sendiri itu mengandung pengakuan dan kewajiban: “kita sendiri melucuti Jepang”.
SI PACUL : Itu sudah logis dan semestinya.

B. SUSUNAN
SI GODAM : Yang dimaksudkan di sini bukanlah susunan pemerintah, tetapi susunan “Kalangan Rakyat Berjuang”. Maksudnya terutama memang berjuang. Perkara yang lain-lain seperti pendidikan, kesehatan, dll dalam arti yang dalam dan luas sepatutnyalah kalau diserahkan kepada pemerintah saja.
SI PACUL : Tepat Dam! Maksud “kalangan” itu yang pertama dan terakhir ialah “MEMANG BERJUANG”. Pada “kalah menangnya” rakyat kita dalam perjuangan inilah tergantung “tumbang atau tumbuhnya” Republik kita dan hidup matinya Rakyat Indonesia.
SI GODAM : Buat susunan perjuangan itu, saya pikir ada tiga bagian yang penting sekali, pertama Bagian Politik, kedua Bagian Pertahanan, ketiga Bagian Ekonomi.
DENMAS : Manakah bagian yang terpenting?
MR. APAL : Dalam Negara Republik berdasarkan Kedaulatan Rakyat dan Sosialisme, sudahlah tentu Bagian Politik itu yang terpenting. Bagian Politik itulah yang menentukan arah jalannya Negara, seperti seorang nahkoda menentukan arah kapalnya berlayar. Jadi dalam hal putus memutus Bagian Politik-lah yang menjatuhkan kata terakhir.
SI PACUL : Memang kalau putusan terakhir itu jatuh di tangan Bagian Pertahanan, maka mungkin negara kita akan bersifat militeristis. Keadaan sifat begitu mesti kita singkirkan dari sekarang.
MR. APAL : Akibat pemerintahan militeristis yang terdiri dari ratusan pulau ini akan memberi jalan kepada perpecahan. Satu diktator militer di Jawa umpamanya akan mengundang adanya diktator militer di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, mungkin pula di Ambon atau Maluku. Republik kita dan kemerdekaan kita jatuh atau berdiri dengan “kata mufakat”. Kalau kepulauan Indonesia tak bisa mengadakan pemerintahan yang didirikan atas “kata mufakat” maka besarlah bahaya kita atas perpecahan.
SI GODAM : Pendeknya putusan penghabisan dalam pimpinan politik negara mesti terletak di tangan Bagian Politik. Apabila arah politik sudah ditentukan dan diputuskan oleh kalangan buat berjuang maka kepada Bagian Pertahananlah diserahkan menetukan siasat dan pimpinan perjuangan.
SI PACUL : Sudahlah tentu Bagian Politik tidak akan berdiam diri saja.
SI GODAM : Tentu tidak! Siasat berjuang dan pimpinan berjuang itu senantiasa mesti diketahui dan diawasi oleh Bagian Politik. Pun Bagian Ekonomi bukanlah satu bagian yang terpisah dan menonton saja. Pada Bagian Ekonomilah terletak kewajiban menjaga keekonomian. Makan minum, pemondokan, perawatan, pengangkutan dll dari tentara yang sedang berjuang mati-matian itu membutuhkan perhatian pikiran dan kemauan para pengurus sepenuh-penuhnya.
MR. APAL : Ringkasnya mesti ada kerja tolong-menolong antara Bagian Ekonomi, Bagian Pertahanan, dan Bagian Politik. Tetapi putusan tertinggi dan bertangngung jawab terhadap Rayat Berjuang mestinya berada di tangan Bagian Politik.

SI PACUL : Memang kekuasaan dan tanggung jawab itu mesti ditentukan lebih dahulu. Kalau tidak akan timbul kekacauan kiri-kanan seperti sekarang. Apalagi kalau tentara kita di medan perang sedikit mendapat kemunduran, maka kekacauan dalam Badan Pimpinan itu bisa memasukkan biji “devide et empera”, pecah dan kalahkan dari pihak musuh yang mengintai-intai itu.
SI GODAM : Tiap-tiap tiga bagian itu mempunyai cabang (pembagian) pula. Bagian Politik saya pikir terutama dibagi empat cabang besar pula, ialah : 1. Urusan garisan politik Kalangan 2. Usaha menyelidik semua hal yang mengenai politik 3. Urusan penerangan 4. Urusan susunan.
SI TOKE : Memang pembagian pekerjaan dan tanggung jawab itu perlu sekali. Semua cabang di atas saya anggap penting. Garis politik mesti dipegang betul supaya kita jangan menyimpang dari garis yang sudah ditetapkan oleh Sidang Kalangan. Barangsiapa yang menyimpang dari garis itu mesti dikenai disiplin, ialah sesudah diperoleh bukti yang sah. Urusan penyelidik mestilah selalu siap sedia menjaga supaya jangan masuk orang atau paham yang merugikan perjuangan kita. Sudahlah terang bahwa penerangan dan siaran itu penting sekali. Keyakinan dan siaran itu penting sekali. Keyakinan dan semangat rakyat bisa dipegang dan diperhebat dengan jalan penerangan dan siaran. Bahaya mata-mata musuh itu tak ada selamanya bisa didapat dengan jalan penerangan dan penyiaran. Rakyat yang serba gelap gampang dimasuki setan pemecah belah. Akhirnya susunan di pusat, cabang, dan tampuk mesti dicocokkan buat seluruh negara, pulau, provinsi, daerah, kota, dan desa. Itulah perlunya cabang urusan susunan di atas.
SI GODAM : Kupikir baiklah Bagian Pertahanan itu kita bagi pula atas empat urusan : 1. Urusan Tentara Rakyat 2. Urusan Kepolisian 3. Urusan pemuda berjuang 4. Urusan porewa (milisi)
SI PACUL : Urusan tentara itu sudah tentu berhubungan dengan latihan kemiliteran pimpinan tentara berupa opsir dan persenjataan. Begitu juga urusan kepolisian. Urusan pemuda yang berkenan dengan pertahanan itu sesungguhnya pula perlu mendapat perhatian teristimewa. Boleh dikatakan bahwa di bahu pemudalah sebagian besar terletaknya pertahanan Negara Republik. Yang mestinya tak kurang mendapat perhatian ialah urusan perang. Dalam masa Imperialisme Belanda ada satu golongan orang Indonesia yang berdarah merdeka dan bersifat pemimpin, mereka tak mau terikat oleh aturan yang ditimbulkan oleh Imperialisme Belanda, baikpun aturan yang berhubungan dengan ekonomi ataupun politik. Mereka mempunyai para pengikut, tiap-tiap pemimpin sampai 500-1.000 orang, yang ikut pemerintah pemimpinnya dengan tak menghitung laba rugi, hidup mati. Di masa imperialisme Belanda mereka dianggap musuh ketentraman masyarakat yang memang bobrok itu. Sekarang mereka sendiri tak menginginkan masyarakat jajahan itu dikembalikan. Di mana-mana mereka mengadakan tindakan sendiri menghadapi musuh yang ceroboh bersenjata lengkap. Di mana mereka menerima kepercayaan Murba dan tanggung jawab, di sana mereka mengadakan perubahan yang baik. Mereka yang dibentuk oleh masyarakat jajahan dahulu itu, kaum porewa, yang semangat berontak dan senantiasa serempak serentak berontak dan mesti ditaruh di bawah perhatian dan pimpinan yang sehat. Kalau tidak, mereka akan bertindak sendiri dan mungkin merugikan perjuangan.
SI GODAM : Memang kita mesti urus dan perhatikan semua golongan manusia yang kita warisi dari masyarakat jajahan yang busuk itu. Memang gampang melamunkan “prajurit suci” yang beridaman “suci”. Tetapi dalam dunia perjuangan ini, kita tiada mengelamun. Kita mesti praktis! Kita mesti berjuang dengan alat berupa barang, dan manusia yang ada pada kita. Akhirnya Bagian Ekonomi mesti mempunyai cabang pula buat: 1. Urusan pekerja, 2. Pertanian, 3. Perusahaan, dan 4. Pasar. Prajurit pekerja dan proletar tani tentulah mesti mendapat perhatian luar biasa. Buat proletar muda mesti diadakan latihan dan kursus, supaya mereka disiapkan buat memimpin perusahaan, pertanian, politik, dan pertahanan negara. Perhatian kita mesti memusatkan kepada ini, karena merekalah yang paling aktif dan sudi berkorban dalam perjuangan yang paling hebat dahsyat ini. Seboleh- bolehnya kaum pedagang dan perusahaan kecil dan tenaga itu disusun pula dalam satu organisasi seperti koperasi. Semangat perorangan yang mengendali perhatian dan aksi mereka mesti dibelokkan pada semangat kolektif, gotong-royong buat membantu republik yang dalam marabahaya ini. Kaum dagang di pasar pun termasuk pada golongan ini juga. Begitulah susunan “Kalangan” itu dalam garis besarnya.
SI PACUL : Memang kalau susunan semacam itu bisa dilaksanakan di pusat, di pulau, di provinsi, di daerah kota, 70 juta rakyat Indonesia ini tak akan bisa lagi digertak atau ditipu pembujuk ataupun bajak perampok dari arah manapun juga datangnya. Siaran si perampok ataupun siaran pelor-bom akan melayang tersia-sia saja!


V
 SYARAT SERTA TAKTIK BERJUANG

SI PACUL : Sekarang (2 Desember 1945), “seandainya” kita sudah mempunyai Kalangan Rakyat Berjuang seperti sudah kita uraikan di atas. “Kalangan” itu seandainya pula sudah berdisiplin yang kuat kokoh. Semuanya rakyat yang berontak sudah terikat di bawah pimpinan atau pengaruhnya. Janganlah pula dilupakan beberapa perkara di bawah ini: Musuh kita Inggris-Belanda hakikatnya amat bertentangan. Dalam tentara Inggris dan Nica tak kurang adanya pertentangan. Sekutupun terbagi atas pro dan anti Indonesia Merdeka. Seluruh Asia dan Afrika yang dijajah memihak pada Republik Indonesia. Dunia proletar Internasioal tak menyukai Perang Dunia Ketiga. Akhirnya Soviet Rusia dan Tiongkok memperamati dan 100% menyetujui Republik Indonesia. Apakah syarat dan taktik strategi atau TIPU MUSLIHAT berjuang?
SI GODAM : Seperti dalam perjuangan, maka di atas segala-gala yang terpenting tentulah “keyakinan” dan kekuasaan menang.
DENMAS : Memang keyakinan dan kehendak itu adalah uap kereta dan listrik buat mesin, ialah satu kodrat pendorong. Tetapi di luar Rakyat Murba apalagi di antara kaum intelek masih banyak yang sangsi atas kemenangan. Alasan mereka tentulah sebab kekurangan senjata. Kekurangan ini, kekurangan itu.
SI PACUL : Yang sangsi itu mestinya ada di dalam semua perjuangan. Tetapi Rakyat Murba tidak main hitung semacam itu. Ada atau tak ada pimpinan, mereka terus gempur Inggris-Nica yang ceroboh dan yang mulai bertindak melucuti senjata prajurit Indonesia.
SI TOKE : Memang maksud Inggris-Belanda sekarang sudah lebih terang! Keterangan dari Perdana Menteri Inggris bahwa Pemerintah Inggris cuma mengakui Hindia-Belanda sudah cukup terang.
SI PACUL : Semua tindakan Inggris-Nica sendiri sudah lebih terang buat mereka yang “mau” mengerti. Tetapi buat mereka yang tak mau mengerti karena dalam hati sanubarinya sudah terpendam “kemauan buat kompromi”, apapun juga bukti tentang maksud Inggris-Belanda yang sebenarnya tak akan dimengerti oleh mereka. Mereka mau kompromi dengan Inggris-Belanda, bermusyawarah dengan Inggris-Belanda, sedangkan “musuh” masih dalam negara kita. Barangkali nanti debat mendebat dalam permusyawaratan, pilih memilih wakil buat Dewan ini dan itu, pendeknya rebut merebut kursi, pangkat, dan gaji. Sedangkan musuh masih “dalam” Negara!
SI GODAM : Asal kalangan berjuang selalu berdiri di tengah-tengah Rakyat Murba dan memimpin Rakyat Murba dengan keyakinan dan kemauan menang dan perhatikan semua syarat dan taktik berjuang, kita bisa dengan tenang menyerahkan hari depan Republik Indonesia kepada Sang Waktu.
SI TOKE : Apakah pula syarat itu, Dam?
SI GODAM : Banyak juga. Tetapi terutama yang mesti dilakukan: 1. Pegang ini tiap-tiap menyerang. Artinya siasat menyeranglah yang kita utamakan. 2. Cari gelang rantai pertahanan musuh yang lemah. Putuskan rantai itu. Kepunglah masing-masing putusan itu dan hancurleburkan. 3. Selalu hitung lebih dahulu: kekuatan pertahanan musuh dan kekuatan kita menyerbu. 4. Selalu bisa memilih mana yang baik: menjalankan muslihat menyerang dari depan atau dari samping atau mengepung. Gempurlah rombongan kecil-kecil! Seranglah sekonyong-konyong. 5. Selalu ada persiapan menggempur mata-mata musuh (tetapi jangan berlaku tidak adil atau kejam karena terburu nafsu). Periksalah dengan seksama.
SI TOKE : Apa yang “jangan” dilakukan? Engkau sudah bilang apa yang “mesti” dilakukan?
SI GODAM :
1. Jangan lupa bahwa kita bukan melawan tentara. Senjata kita terutama politik, ekonomi dan gerilya.
2. Jangan lupa mendengungkan ke dalam dan ke luar negeri bahwa Republik Merdeka adalah 100% hak kita dan Inggris-Belanda tak berhak mencampuri urusan rakyat Indonesia. Satu persen pun tidak!
3. Jangan lupa bahwa walaupun dunia internasional membiarkan kota Indonesia dibom atom, desa dan gunung Indonesia cukup banyak buat perlindungan kita. Bumi cukup kaya buat hidup tak dengan kota. Tetapi Inggris-Belanda dengan tentara modern tergantung sebagian besar pada kota modern di Indonesia.
4. Jangan lupa bahwa Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang selalu kalah kalau berada jauh dari armada yang membantu dengan meriam dan kapal terbangnya. Jangan lupa contoh Magelang. Jangan putus asa kalau kalah di pantai. Di gunung pasti menang, kalau mau menang. Jadi jangan hilang akal kalau sebentar terpaksa meninggalkan kota. Jangan lupa menggempur kembali ke kota, apalagi dalam gelap dan hujan. Sekarang Jendral hujan sudah memanggil.
5. Jangan lupa bahwa Inggris-Nica dan pengkhianat di sampingnya tak bisa hidup tak dengan air, makanan, sayur, daging, dan pertolongan rakyat Indonesia. Jangan lupa bahwa setiap jam setiap hari tentara Inggris- Amerika terhalang maksudnya, jutaan rupiah ongkos yang mesti dipakainya dan dipikulkannya ke bahu rakyat yang sudah miskin melarat itu.
6. Jangan lupa bahwa kesabaran rakyat Inggris, Belanda, dan rakyat dunia lain yang ingin damai, ingin barang bahan Indonesia itu, ingin karet, minyak tanah, timah, gula, kina itu ada batasnya. Rakyat dunia itu tidak bisa selamanya membiarkan Inggris dan Belanda mengacau di Indonesia, bagian bumi yang penting buat perdagangan dan lalu lintas itu.
7. Dalam menjalankan taktik greliya dan kalau perlu taktik bumi hangus dan terendam, janganlah menyerang dari depan kalau musuh terkumpul dan bersenjata lengkap. Singkirkanlah peperangan tentara menghadapi tentara. Janganlah lupa bahwa Rakyat Murba mendapat senjata baru yang cocok buat taktik gerilya, ialah GRANAT TANGAN yang sekarang ada bertimbuntimbun. Jangan lupa bahwa granat tangan dan bambu runcing berkali-kali mengacau-balaukan dan mempontang- pantingkan gabungan Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang. Jangan lupa bahwa Bukit Barisan Indonesia dari Aceh ke Lampung, dari Banten ke Banyuwangi terus ke Timor, di Malaka, Kalimantan dan Sulawesi selama ini menunggu-nunggu putera Indonesia yang pahlawan-perwira buat bersembunyi sebagai pahlawan hutan Indonesia. Sang macan.... menghancurleburkan penjahat manapun juga di abad ke 20 ini.
SI PACUL : Tepat Dam...... Bukit Barisan yang sebagai macan, dengan taktik macan menunggu-nunggu penjajah buat diterkam dirobek-robek. Naik semangatnya Dam!
SI TOKE : Aku pun begitu Dam! Tadi sesudah mendengar kabar kekalahan kita di Surabaya terharu betul hatiku. Hampir percaya kepada kaum pengeluh. Ah, kita kekurangan ini, kekurangan itu, kita akan kalah! “Kasihan sama Rakyat”. Tetapi sekarang aku yakin Bukit Barisan kitalah benteng kita yang terakhir.
MR. APAL : Ingat sama Fabius, ahli mundur! Dia adalah seorang pahlawan Romawi melawan tentara Punisia yang kuat, di bawah pimpinan Jendral Punisia yang gagah perwira yang cerdik sekali. Tetapi akhirnya dengan taktik teratur Romawi menang juga.
DENMAS : Memang mesti dicamkan juga pada rakyat, bahwa tentara yang berperang itu tidak semestinya maju saja. Ingatkan pula bahwa senjata kita bukanlah senjata api semata- mata. Senjata kita juga berada dalam ekonomi dan politik. Malah Jendral Hujanpun satu senjata kita.
SI PACUL : Ya! Sebenarnya kita sedikit salah di Surabaya terhadap rakyat kita.
SI TOKE : Apa salahnya Cul ?
SI PACUL : Sebenarnya kita mesti bagikan kain kepada rakyat ketika kita sudah sita kain bertimbun-timbun. Rakyat kita butuh kain! Kain itu adalah hasil kemenangan rakyat Surabaya yang berjuang merebut kembali hak miliknya. Pada saat itu juga mestinya rakyat yang ditelanjangi Jepang itu ditutupi badannya. Satu muslihat buat melaksanakan siasat kemakmuran dan mempertinggi semangat pemberontak!
SI TOKE : Baiklah hal itu menjadi pelajaran di hari depan. Lekas PENUHI KEBUTUHAN RAKYAT di mana saja. Jangan ditunggu-tunggu lagi! Rakyat sudah kebosanan JANJI!!
MR. APAL : Sekarang rasanya sudah cukup kita rundingkan apa siasat dan taktik yang perlunya dijalankan berjuang. Tentu masih ada ketinggalan di sana-sini. Tetapi saya pikir baiklah Godam membikin satu pidato di depan kami, satu pidato sebagai contoh buat seorang propagandis di depan umum. Kami mau pakai sendiri.
SI GODAM : Saudara sekalian tahu, bahwa sesungguhnya aku bukan ahli pidato.
SI TOKE : Tak perlu kita caranya melaksanakan pidato itu, cara itu tidak penting buat Rakyat Murba yang sedang berjuang mati-matian. Yang penting ialah “ISI” pidato itu.
SI PACUL : Silakan Godam!
DENMAS : Aku seorang ningrat, Dam. Engkau berasal dari kelas benggolan, bekas stoker, bekas masinis. Tetapi dalam semua perundingan kita engkau perlihatkan kecerdasan, keberanian, dan kejujuran. Kuangkat pecisku di depan kecakapanmu, Dam. Aku mengaku muridmu, Dam.
MR. APAL : Aku seorang bertitel meester, Dam. Dunia intelek di zaman Belanda mengakui tingginya pengetahuanku, Dam. Mr. ialah pengakuan yang tertinggi tentang pengetahuan dalam hal undang-undang. Engkau seorang keluaran sekolah rendah saja. Tetapi engkau seorang “self-made-man” yang jaya. Contoh di segenap sejarah manusia cukup banyak kau ketahui! Contoh yang membuktikan bahwa “genie” itu tak selamanya keluaran sekolah tinggi. Aku tak malu, Dam, mengakui ketangkasanmu dalam berpikir dan bersoal jawab. Aku sudah mendapat pengakuan atas pengetahuanku. Tetapi sekarang aku insaf bahwa dalam masa pancaroba ini aku tak sanggup menyelami jiwa Rakyat Murba, menyusun menggerakkan tenaga Murba, yang diserahkannya pada pimpinan perjuangan itu. Berdirilah Dam, buat kami, buat contoh, buat MURBA, yang bergelora semangatnya, sesudahnya kami sendiri bertahun-tahun sudah membangunkannya ialah semangat MERDEKA. Apabila sekarang mereka melaksanakan apa yang kami kaum intelek sendiri, bangunkan dan muliakan itu, kami kaum intelek terutama saya sendiri sebagai intelek tidak berdiri di tengah rakyat, memimpin atau membantu, maka saya sendiri rasa bahwa kaum intelek tidak jujur terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Dan kalau rakyat Murba sekarang sebagai akibatnya propaganda puluhan tahun di mana-mana tiada “dipimpin” dan dibiarkan dirobek-robek oleh pelornya Inggris- Nica-Gurkha-Jepang, maka hal itu, aku Mr. Apal, anggap sebagai satu pengkhianatan si sejarah Indonesia yang terpenting.
SI PACUL : Silakan Dam!

SI GODAM : Saudara dan saudara! Tiga minggu yang lampau Inggris menuduh kita rakyat Surabaya membunuh seorang opsirnya. Dia tidak mau mengadakan pemeriksaan atas benar tidaknya pembunuhan itu. Dia tidak mau tahu apakah matinya opsir itu disebabkan tembakan dalam pertempuran kacau balau atau oleh pelor serdadunya sendiri yang menembak rakyat Indonesia. Bahkan dia tiada mau tahu apakah opsir itu benar mati apa tidak. Pihak Indonesia tiada mendapatkan opsir itu hidup, luka, atau mati di tempat pertempuran itu dilakukan. Pihak Indonesia siap sedia mau mengadakan pemeriksaan yang seksama. Tetapi tidak sekali ini saja Inggris pintar mencari alasan. Sudah kita ketahui bahwa pada hari itu Inggris sudah mempunyai rencana yang pasti dan beres. Rencana itu ialah menduduki Surabaya bersama serdadu Nica yang sudah tiba dari luar negeri. Ada atau tidaknya kesalahan Indonesia tuduhan mesti dikemukakan. Benar tidaknya tuduhan itu tuntutan mesti dilakukan. Inggris, Saudara, menuntut supaya rakyat dan tentara Republik Indonesia dilucuti senjatanya. Rakyat dan tentara Republik Merdeka mesti bertekuk lutut menyerahkan semua senjata. Cuma rakyat satu negara yang mau melepaskan hak kemerdekaannya, yang mau dihina dan diperlakukan sebagai budak belian, yang sanggup memenuhi tuntutan Inggris itu. Inggris bukannya diserahi oleh Sekutu melucuti senjata rakyat Indonesia, melainkan melucuti tentara Jepang. Seandainya diserahi perlucutan itu, Indonesia tak perlu dan hina sekali kalau ia membenarkan tuntutan Inggris itu. Tuntutan itu berlawanan dengan kedaulatan Rakyat Merdeka. Rakyat Indonesia sejak tanggal 17 Agustus ialah suatu negara merdeka. 70 juta rakyat Indonesia menyetujui dan ternyata menyokong kemerdekaan itu dengan harta benda serta jiwa raganya. Patutkah rakyat suatu negara merdeka dilucuti senjatanya? Satu syarat pertama negara merdeka ialah kemerdekaan kemauan dan kesanggupan negara itu mempertahankan kemerdekaannya. Hilanglah kemerdekaannya kalau rakyat itu tiada bersenjata lagi. Maksud Inggris bukanlah melucuti senjata Jepang, melainkan melucuti senjata rakyat Indonesia. Rakyat yang tiada bersenjata itu akan mudah digertak, diinjak-injak, atau disembelih oleh Nica yang disiapkan oleh imperialisme Inggris sebagai penjajah Indonesia. Apabila pemerintah Nica sudah teguh tegap kembali menjajah Indonesia ini, maka Inggris berharap akan mendapat kembali kebun, tambang, pabrik, dan tokonya. Inilah maksud Inggris yang sebenarnya. Betapapun Inggris menyangkal tuduhan kita dan dunia lain bahwa bermaksud mengembalikan Indonesia ke derajat suatu jajahan, semua bukti menyaksikan hasrat Inggris itu. Lagipula semua Inggris di Asia dan Afrika menyaksikan kebohongan, kelicikan, dan kebuasan Inggris dalam hal jajah menjajah. Suara imperialisme Inggris adalah suara perempuan lacur. Perkataannya tak boleh dipercaya. Musnahlah kemerdekaan Indonesia kalau alasannya atau anjurannya didengarkan. Selama tentara Inggris berada di Indonesia janjinya mesti dianggap sebagai tipu muslihat belaka. Tetapi rakyat Surabaya tiada mendengarkan tujuan dan alasan wakil imperialisme Inggris itu. Rakyat Surabaya yang bukan juris itu mengerti sungguh akan haknya satu Rakyat Merdeka. Rakyat Surabaya pegang senjata di tangannya. Dengan senjata di tangannya dia akan pertahankan kemerdekaannya. Itulah sifat jantan! Itulah sifat yang cerdik berdasarkan keinsyafan akan hak sendiri, kewajiban sendiri, dan kehormatan akan diri sendiri. Barangsiapa yang tak menjalankan sifat itu dia tidak mau merdeka, dia tidak mempunyai kehormatan atas dirinya sendiri. Dia itu adalah orang budak, atau agen Nica yang bersembunyi. Dalam hakikatnya dia adalah seorang pengkhianat. Ada yang mengeluh, kita tiada bisa melawan tank raksasa, melawan kapal perang dan kapal terbang Inggris. Saya jawab, bukankah sudah tiga minggu kita menahan hujan pelor? Berapakah kerugian yang diperoleh musuh dalam tiga minggu itu? Apakah kemenangan yang diperolehnya dalam tiga minggu itu? Bisakah Inggris-Belanda mengurusi pabrik, toko, atau kebun di tempat yang didudukinya? Selama dia tidak bisa mencari untung dengan menghisap keringat dan darah rakyat Indonesia, selama itulah perampasan sejengkal atau dua jengkal tanah itu satu kesulitan bagi dirinya sendiri. Tanah yang dirampas itu mesti dipertahankan siang dan malam terhadap serangan rakyat dan tentara Indonesia. Ongkos mempertahankan sehari demi sehari bertimbun-timbun. Sehari demi sehari Inggris-Nica akan merasai tajamnya senjata rakyat Indonesia yang tak kurang tajam dari senjata biasa. Senjata ekonomi, di samping penyerbuan secara gerilya yang tak putus-putusnya, bukanlah senjata yang bisa diabaikan begitu saja, walaupun Inggris lengkap bersenjata. Seandainya Inggris-Nica bisa merebut semua kota-kota di pesisir ini belum berarti mereka menang! Masih jauh jalan yang mesti mereka tempuh. Selama rakyat Indonesia bersatu, berdisiplin, dan insyaf akan muslihat yang harus dijalankan serta yakin akan kebenaran sendiri serta kesalahan musuh, selamanya Inggris-Nica masih dalam tingkat permulaan. Di Magelang di mana kekuatan armada tak berlaku, di sana Inggris dikalahkan. Dikalahkan, Saudara! Apakah artinya kalau tentara yang paling modern di dunia, tentara yang sudah mendapat ujian di medan perang modern, dikalahkan, diusir, atau dimusnahkan oleh rakyat dan tentara Indonesia yang tak beropsir, tak bersenjata, dan tak berlatih cukup? Kepada prajurit Indonesia aku tak perlu insyafkan atau tanyakan kejadian Magelang yang maha penting buat sejarah Indonesia ini! Kepada pengeluh, pengesah, pengecut, kepada yang sangsi akan kekuatan rakyat Indonesia, sangsi dengan segala yang berhubungan dan berbau Indonesia, saya mau tanyakan sekali lagi artinya kemenangan Magelang itu. Saya tambah pula tidak di Magelang saja rakyat Indonesia dan tentara Indonesia menang berperang dengan tentara Inggris-Nica. Di semua tempat, di mana pasukan berhadapan dengan pasukan, di sana Indonesia yang menang. Tak ada kecualinya. Orang Inggris-Nica belum pernah menang sama orang Indonesia. Yang menang cuma senjata luar biasa seperti meriam kapal perang yang menembak dari jauh di tengah laut, atau kapal terbang yang tinggi sekali terbangnya. Apalagi kelak di benteng kita yang paling akhir, yakni di pegunungan yang membujur di semua kepulauan Indonesia, di sana Inggris-Nica akan berjumpa perjuangan yang sesungguhnya. Di sana meriam armada takkan berdaya. Di pegunungan itu bom kapal terbangnya takkan berarti. Di pegunungan tentara Indonesia akan menunggu, seperti harimau menunggu musuh di tempat dan tempat yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan mencelakakan musuhnya. Dari gunung gerilya Indonesia dengan tak putus-putusnya akan menyerbu ke kota-kota, seandainya semua kota bisa diduduki Inggris-Nica, yakni kalau Inggris- Nica bisa menduduki kota yang hangus dan dikeringkan air minum dan makanannya. Di kota hangus Inggris-Nica menderita serangan gerilya di hari malam dan kekuarangan makan di hari siang. Siapakah di antara Saudara yang percaya Inggris-Nica bisa satu tahun saja duduk di kota neraka semacam itu? Duduk siang malam dalam bahaya dan kekurangan makan, tidur, dan ke plesiran? Di telinganya terdengar pula ocehan dan sumpah dunia? Saudara-saudara! Diplomasi kita bukan diplomasi bertekuk lutut. Diplomasi yang patah hati, diplomasi setengah atau tiga perempat jalan. Diplomasi kita menghendaki kemerdekaan 100% sempurna. Kita tidak akan berhenti selama kemerdekaan sempurna itu belum tercapai. Kita bisa tahan karena sudah bisa melarat, karena bumi, iklim, memihak pula pada kita. Kita percaya kita bisa mencapai kemerdekaan sempurna itu kalau kita cukup sabar, cukup tahan! Cukup percaya akan hak dan kebenaran diri sendiri. Percaya akan kesalahan Inggris-Nica. Akhirnya percaya akan keadilan manusia di dunia ini. Dunia sedang mengamati kita! Dunia ikut menimbang siapa yang benar siapa yang salah. Dunia ikut menimbang dan memperhatikan Indonesia kacau dan dikacaukan. Suara umum di dunia besok atau lusa akan memihak kepada yang berhak dan menuduh serta menghukum mereka yang mengcaukan serta berdosa. Kita menunggu sambil berjuang sampai si penjajah itu musnah atau berangkat meninggalkan pesisir kita. Sampai suara umum di dunia menyalahkan si penjajah. Saudara jangan lupa bahwa Indonesia selain penting buat lalu-lintas, penting pula buat pembangunan ekonomi di dunia yang rusak ini. Bahan dari Indonesia dibutuhkan buat semua negara beradab di dunia. Kemauan dunia beradab buat perdamaian, kebencian proletar Indonesia, kebencian rakyat jajahan terhadap imperialisme dan persetujuannya dengan kemerdekaan, inilah semua perkara yang memihak kepada Rakyat Indonesia Berjuang. Inilah diplomasi kita! Diplomasi berjuang! Dengan begitu membangunkan rasa kebenaran dan keadilan di dunia dalam dan luar Indonesia. Dengan begitu membelah dua kaum imperialisme dengan kaum pendamai. Bukan diplomasi kompromis, diplomasi bertekuk lutut. Karena diplomasi bertekuk lutut itu membimbangkan proletar dunia dan rakyat jajahan. Diplomasi bertekuk lutut itu membencikan rakyat beradab di dunia, yang insyaf akan hak kemerdekaan suatu bangsa dan hormat kepada rakyat lain yang membela kehormatannya sendiri. Si lemah, si sangsi, si pesimis, seperti si pengkhianat memang banyak alasannya. “Oh,” katanya, “kasihan sama rakyat, yang mesti berkorban!” Bukankah Inggris-Nica yang menyebabkan korban itu? Bukankah imperialisme yang selalu siap sedia mengorbankan puluhan juta manusia buat menjalankan politiknya? Di zaman manakah, di negara manakah “kemerdekaan” itu diperoleh dan dipertahankan dengan berdiplomasi dari gedung besar, bukan dengan pengorbanan puluhan malah sering jutaan manusia? Lagipula apa artinya “senjata” Indonesia sekarang mengorbankan 2 atau 3 juta rakyatnya buat kemerdekaan 68 juta sisanya? Bukankah keamanan (!) dan ketentraman di bawah Jepang saja sudah menuntut korban 3 sampai 4 juta jiwa manusia? Jika Indonesia sekarang takut mengorbankan 1 atau 2 juta rakyatnya (“seandainya” perlu pengorbanan begitu banyak dalam perjuangan, yang tidak dikehendaki oleh rakyat Indonesia sendiri itu), kelak 70 juta orang Indonesia akan dikorbankan selama-lamanya buat budak dalam kebun, pabrik, dan tambang bangsa asing. Bukan Indonesia saja yang berkorban dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan sebagai hak mutlak dan hak alamnya itu, juga si pemerkosa kemerdekaan kita itu mesti berkorban! Juga mereka perlu mengorbankan harta bendanya, jiwanya, dan waktunya. Akhirnya yang tak boleh Saudara lupakan adalah bahwa Inggris-Belanda sehari demi sehari mengorbankan namanya sebagai negara beradab. Sekali dunia beradab mengutuki tindakan mereka terhadap satu bangsa yang salahnya cuma karena ia mempertahankan haknya, pada saat itulah kemenangan berada di tangan Indonesia. Indonesia akan terus berjuang sampai saat itu tiba. Sampai si ceroboh, si penjajah bertekuk lutut. Muslihat Rakyat Indonesia ialah berjuang lama, menyingkiri semua yang bersifat terburu nafsu, bersifat tergesa-gesa, bersifat fanatik, dan bersifat perjudian. Dengan hati tenang-tegap seperti baja, otak teduh berputar, dan akhirnya dengan kemauan dan keyakinan kokoh-kuat, Rakyat Indonesia menunggu sampai fajar kemerdekaan itu menyingsing! Kalau kita para prajurit kemerdekaan ini gagal dalam perjuangannya, maka ini tidak berarti kita gagal karena salah dasar atau salah muslihat. Kalau kita kelak gagal maka kegagalan itu mesti dicari pada kurang teguhnya organisasi, lemahnya disiplin, serta kurangnya kecerdasan, kecerdikan, dan kecakapan. Semua kekurangan bisa dan mesti kita singkirkan dari sekarang juga! Tetapi di atas segala-galanya yang tiada boleh kurang, yang mesti diperkokoh sekarang ini dan terus diperkokoh di hari depan ialah persatuan. Jauhilah curiga mencurigai dan tuduh menuduh dengan tak ada alasan cukup. PERSATUAN DAN DISIPLIN! DISIPLIN DAN PERSATUAN! SEKIANLAH!!