PEMBERANTASAN KORUPSI YANG SELALU DI HALANGI

Diposting oleh Abdus Somad , Kamis, 06 Desember 2012 10.01


Siapa yang menginginkan korupsi di Indonesia di  berantas sampai keakar-akarnya? Siapa yang menginginkan Indonesia berubah? Semuanya pasti menginginkan hal tersebut terwujud, rakyat Indonesia akan bangga jika semua itu bisa terjadi. tapi apa yang terjadi di Indonesia semua jenis kebaikan yang bertujuan untuk mewujudkan perubahan untuk bangsa selalu mendapatkan kesulitan untuk berubah. Segala jenis kebaikan selalu di hancurkan mungkin kata-kata itu yang tepat saat ini untuk Indonesia. Betapa tidak Indonesia gencar- hencarnya mngkapanyekan antikotupsi serta menagkap gerbong koruptor satu persatu patut kita dukung dan kita berikan apresiasi . Komisi Pemberantasan Korupsi, atau disingkat menjadi  (KPK ) , adalah komisi di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2003 untuk mengatasi, menanggulangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. harus mengalami kesulitan kembali  mengupas kasus-kasus korupsi. Di mata internasional, bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, citra buruk akibat korupsi menimbulkan kerugian. Kesan buruk ini menyebabkan rasa rendah diri saat berhadapan dengan negara lain dan kehilangan kepercayaan pihak lain.
Ketidakpercayaan pelaku bisnis dunia pada birokrasi mengakibatkan investor luar negeri berpihak ke negara-negara tetangga yang dianggap memiliki iklim yang lebih baik. Kondisi seperti ini merugikan perekonomian dengan segala aspeknya di negara ini.  Saat ini KPK sudah banyak menangkap para koruptor yang sudah merugikan Negara dan rakyat. Indonesia sangat KPK butuhkan guna memberantas tiku-tikus yang menggerogoti uang Negara yang jumlahnya tidak sedikat. Tapi apa daya ketika Komisi Pemberantasan Korupsi yang selama ini sudah memberikan yang terbaik untuk Ibu pertiwi justru mengalami kesulitan untuk mengupas permasalah korupsi di Indonesia sai ini. Di tengah kemelut antara Kepolisian dan Komisi Pemberantasan Kosupsi (KPK) dalam menangani kasus dugaan korupsi Simulator SIM A dan C di Korps Lalu Lintas Polri yang belum usai. Secara tiba-tiba Markas Besar Polri menarik sekitar dua puluh penyidik anggotanya yang ditempatkan di lembaga antirasuah tersebut dengan alas an masa kerjanya sudah berakhir. Apa semua jenis kebaikan harus di halangi? Apa semua jenis kebaikan harus di batasi? Tak heran maka Bangsa  Indonesia tidak akan bisa mengubur korupsi yang berkembang di Indonesia, padahal harapan Rakyat Indonesia sangat mengingingkan Indonesia bebas dari korupsi,

PEMIMPIN

Diposting oleh Abdus Somad , Minggu, 25 November 2012 15.21


 Tak mudah memang menjadi seorang  pemimpin itu dan tak semua orang bisa memimpin tapi kita yakini kita bisa menjadi pemimpin, pemimpin merupakan seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain untuk menggapai visi atau tujuan, dari arti tersebut jelas seseorang harus mempunyai visi yang jelas untuk menjadi pemimpin, tanpa tujuan yang jelas seseorang tidak akan menjadi pemimpin baik diri sendiri maupun orang lain.
Tapi yang perlu di ingat pemimpin tidak hanya punya tujuan yang jelas tapi juga harus bisa bertanggung jawab, memberikan teladan yang baik serta bisa mempercayai seseorang.pemimpin yang punya visi yang jelas tapi dia tidak bertanggung jawab sama saja seperti biola tak berdawai  tdik bisa dibunyikan dengan merdu, lalu seperti apa pemimpin yang harus kita perhatikan dan kita teladani ? kembali ke diri kita masing untuk memikirkan apa arti sebuah pemimpin itu ? apa dia bisa memimpin? Apa dia punya tanggung jawab ? serta apa dia bisa mempercayai seseorang ? tentunya kita akan tahu siap pemimpin dan seperti apa pemimpin yang kita inginkan.
Lalu yang menjadi pertanyaan apa kita sudah menjadi pemimpin ? diri kitalah yang tahu itu, jika kita bisa mempengaruhi seseorang, kita bisa bertanggung jawab serta kita bisa mempercayai seseorang dan yang terpenting kita mempunyai visi yang jelas maka kita bisa menjadi pemimpin. Tapi saat ini masih saja ada yang hanay bisa duduk indah dengan meja yang dihiasi skenario yang tak kunjung selesai untuk dijadikan bahan proyek rakyatnya, hanya bisa berbicara mengebu-gebu tapi tak kunjung diwujudkan dan akhirnya terlupakan dan bahkan sengaja melupakknya, apa itu yang pemimpin yang kita inginkan ?
Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Maka dari itulah muncul pisimistis sesorang mengenai kepemimpinan seseorang hingga muncul bebrapa buku yang berjulul  pemimpin ( leader ), barang kali dalam pikiran kita terlintas siapa yang harus kita tiru? Siap yang harus kita teladani ? apa yang harus diraih? Serta apa yang harus diperjuangkan?  Lalu bagaiman menjadi pemimpin yang efektif yang bisa kita mudah pahami dan mudah kita aplikasikan? Guru manajeman terkenal, Peter Drucker, menjawabnya hanya dengan beberapa kalimat: "pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah berpikir berdasar misi organisasi, mendefinisikannya dan menegakkannya, secara jelas dan nyata.

Perkuliahan di tempuh di Rusunawa UAD

Diposting oleh Abdus Somad , Senin, 06 Agustus 2012 04.41




Study islam (AIK ) kuliah ntensif yang di temouh selam 4 hari cukup merinkankan saya dan temen yang lain juga,kuliah yang harusnya di tempuh selam 2 semester kini hanya di tempuh 4 hari.yang jadi pertanyaan yang masih terpendam kenpa study islam hanya di tempuh 4 hari,knpa materi yang di kuliahkan hanya AIK sedangkan yang lainya tidak ?
 Saat-saat yang menyenangkan,menyusahkan,dan mengecewakan  kami berada di asrama Universitas Ahmad Dahlan ( UAD ) yogyakarta atau yang di sebut RUSUNAWA UAD.selama 4 hari di bekali materi yang seharusnya di tempuh 2 semester,di antaranya thoharah,tafsir hadist,zakat, almu faraid ( ilmu waris ) dan lainya.
Pertama kali menginjakan kaki di RUSUNAWA,suasans pun berbeda seakan-akan merasa belajar di pondokkan,kamipun mulai menuju kamar masing-masing untuk istirahat dan menaruh barang bawaan kita,akupun bingung saat mencari kamarku,setelah naik tangga ke lantai 3 kutemukan kamarku yang di huni hanya 4 orang di antaranya anak pendidikan matematika dan pendidikan fisika internasional salah satunya aku sendiri,takkusangka yang ku ajak sekamar adalah temenku sendiri dari pendidikan matematika,ya aku tak ssungkan-sungkan untuk tidur bareng bersama dia.tak lama kami beristirhat panitia menyuruh kumpul untuk pembukaan AIK.kamipun turun ke lantai dasar untuk mengikuti kegiatan pembukaan AIK,
Pembukaan perkuliahan intensif AIK di buka oleh pembina RUSUNAWA
( asrama UAD).setelah pembukaan dan pembacaan ayat suci ala-qur’an di lanjutkan dengna pembagian kelompok perkuliah kelompok di bagi menjadi  dua kelompok yakni kelompok A dan kelompok B yang didalamnya tercampur anak Pendidikan Fisika dan pendidikan matematika.untuk pembelajaran itu sendiri di bagi dua tempat untuk kelompok A di aula asrama putra dan yang kelompok B di aula putri,setiap harinya gantian menempati ruangan supaya mahasiswa tidak jeuh dengan pembelajaran dan materi yang di berikan dosen pembimbing.aku saat itu berada di kelompok B,pertama kali kuliah di mulai kita di suruh membuat kelompok untuk merumuskan kontrak belajar masing-masing apa saja yang harus kita lakukan di sini yang meliputi kewajiban,hak,dan tujuan kita mengikuti perkuliahan instensif AIK.
            Setelah perumusan kontrak belajar,kami di suruh membacakan tentang apa yang kita rumuskan di selembar kertas Manila,apa yang kita buat dalam rumusan kontrak belajar kita harus mematuhinya dan apa yang menjadi hak kita para pembimbing juga mematuhinya.setelah itu di lanjutkan dengan materi perkuliahan yang sudah di jadwalkan pembimbing AIK,
            Pembelajaran kamipun dimulai dengan materi Thoharah ( bersuci ) materi ini mengajarkan kita bagaimana cara bersuci dari najis,mandi besar,serta bagaimana cara berwudhlu yang benar sesuai dengan Hadist Rasulullah S.A.W,pemateri begitu antusias mengajarkan materi kepaa kami di selingi dengan candaan tapi tetap fokus pada materi apa yang telah di berikan,kamipun tidak jenuh dengan materi dari thoharah ini. Selama 3 jam kami d bekali materi kami jadi lebih paham dan mengerti bagaimana cara bersuci yang baik dan benar.setelah itu kami beristirahat tak lepas ari itu kami unakan waktu istirahat untuk menghafal hadist,surah,dan bacaan sholat fardhu yang harus kami hafal untuk nilai kami nantinya.dikit demi sedikit aku mulai menghafal demi meraih nilai yang sempurna,tidak hanya aku yang mengahfal tapi banyak mahasiswa juga yang menghafal dengan tujuan yang sama.
            Adzan dzuhur berlat brkumandang saatnya kami smelaksanakan sholat berjamaah semua mahasiswa wajib sholat berjamaah kecuali yang halangan,sehabis sholat ada kultum yang awali oleh mahasiswa pendidikan fisika begkutu  juga seterusnya sehabis sholat ada kultum yang I tunjuk oleh mahasiswa yang sudah maju untuk kultum begitu juga dengan  imam dan adzan.seteka itu ada materi kuliah lagi begitu seterusnya selama 4 hari 3 malam.kita tidak hanya belajar saja tapi ada olahrahanya yag di laksanakan pada hari rabu,disana kami di ajak melakukan permainan yang mengutamakan kerjasama,kekompakan dak kekeriatifan kelompok,dimana setiap kelompok harus mempunyai ide-ide untukmembantu kelompoknya.setelah itu kami makan pagi bersama dengan santapan soto ayam,tidk hanya sholat yang berjamaah tapi makanpun kami berjamaah pada saat itu,seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan intensif ( AIK ) dan panitia serta pembimbing menyantap soto bersama sunguh nilai kebersamaan aku dapatkan pada saat itu.tak lepas dari itu aku manfaatkan untuk memotret  teman – teman yang sedang asik menikmati soto ayam ,merekapun dengan senang bergaya sambil memihatkan santapannya.
            Saat – saat yang menegngkan bagiku karena aku belum juga hafal bacaan sholat pada hari ke 4 pada saat itu juga aku di tunjuk untuk mengisi kultum,aku mulai bingung ang mana yang harus dahuluka apa menhafal kulttum apa bacaan sholat? Khirnya saya memutuskan atas izin allah saya memilih menyelesian hafalan saya dulu,baru menghafal kultum.hafalanku pun alhamdulillah bisa saya selesaikan dan sayapun mulai menghafal kultum,ternyata aku masih bingung harus mencari tema apa untuk kultum,dengan terpaksa saya maju kedepan daengan mengambil tema “nasib pendidikan di indonesia “ aku jabarkan semua ilmu apa yang saya dapatkan di organisasi dan di perkuliahan.selesai tugas ku semua tinggal aku mempersiapkan kepulangan dari perkuliahan instensif ( AIK ) selama 4 hari 3 malam di asrama Universita Ahmad Dahlan.
            Agenda selanjutnya persiapan pulang dan penutupan Perkuliahan AIK yang sudh di tunggu-tunggu mahasiswa dengan alasan ingin cepat balik kekost “ asik sudah pulang sudah kangen kost ni “ kata mahasiswa pendidikan matematika sebutlah adhin ditemui saat persiapan penututupan AIK.persiapan penutupan pun dimulai di awali dengan pembagian snack utuk mahasiswa selajutnya masuk ke acara inti yakni pembacaan ayat suci al-qur’an kemudian kesan pesan   mahasiswa selama mengikuti perkuliahan intensif ( AIK ) selama 4 hari 3 malam di asraa Universitas Ahmad Dahlan ( UAD ) yogyakarta dan yang terakhir sambutan ketua panitia yang sekaligus menutup perkuliahan AIK.
            Perkulihan AIK selesai sudah para mahasiswa mulai menunggu bis yang menghantarkan pulang,tapi sebelum pulang kami berfoto-foto untuk kenang-kenangan kami selama mengikuti perkuliahan AIK,tak sungkan-sungkaan dan dengan gaya yang axis berfoto bersama di depan antara asrama Putra dan asrama Putri UAD,rasa capek,lemah lesu,serta senang bercampur jadi satu saat keluar dari RUSUNAWA UAD dan kembali ke kost masing-masing dengan muka bercampur perasaan yang berbeda- beda
             

Diposting oleh Abdus Somad , Minggu, 05 Agustus 2012 13.55



NASIB PENDIDIKAN BANGSA KITA

Penidikan di Indonesia saat ini sangat menyedihkan dan sangat meperihatinkan,betepa tidak?tujuan bangsa kita sudah jelas di dalam UUD 45 yakni mencerdaskan anak bangsa.lalu apa yang di lakukan pemrintah saat ini sudah menutup sebagian cita-cita anak bangsa yang seharusnya di berlakukan adil. Banyak anak –anak jalanan yang ingin sekolah ingin menimba ilmu  dan ingin meraih cita-citanya  tidak bisa ia raih karena kendala biaya pendidikan yang begitu besar,pendidikan gratis yang  di janjikan pemerntah takluputnya seperti barang buangan.pemerintah hanya menggratiskan saat pendaftaran dan pemberian baju sekolah,lalu buku-buku pelajaran  yg ai butuhkan ia harus membelinya sendiri, dana bantuan APBN apa tidak cukup untuk memberikan bantuan kepada anak yang ingin yang bersemangat untuk  menuntut ilmu dan ingin meraih cita-citanya,mau di apakan dana APBN yang seharusnya 20%untuk pendidikan tapi hanya 12% yang baru terralisasi, ini membultikan pemerintah hanya ucap janji tapi tak ada realisasi siapa yang harus disalahkan  Melihat pendidikan di indonesia rusak dan memperiharinkan ?
Pendidikan di Indonesia tak luputnyaa barang  komudity ( barang dagang).perguruan tinggi yang seharusnya mampu memberikan harapan untuk bangsa tapi saat ini perguruan tinggi seperti layaknya barang dagang yang saat ini banyak perguruan tinggi sudah banyak menerima  sponsor  hanya ingin mendapatkan uang,lalu dana yang selama ini di keluarkan mahasiswa apa tidak cukup untuk pendananaa di perguruan tinggi. Banyak  diluar yang ingin melanjutkian kuliah tapi belum bisa ia nikmati, banyak di luar sana yang ingin meraih cita-citanya dan ingin memajukan bangsa Indonesia tapi tak bisa ia wujudkan hanya karena biaya pendidikan sangat besar,mau di apakan pendidikan di indonesia?haruskah sistem pendidikan di Indonesia dirubah?.
 Untuk  kejayaan, kebesaran dan kemegahan suatu bangsa dan Negara ialah orang-orang yang berpendidikan dan berpengetahuan.karena modal perkembangan untuk suatu bangsa dan negara adalah tenaga-tenaga ahli yang berpendidikan dan berpengetahuan.Padahal pendidikan itu adalah bekal manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.tanpa pendidikan kehidupan manusaia akan terlantar,dengan pendidikan kita bisa tahu arah tujuan kita kemana. tapi realitasnya di indonesia  yang bisa menikmati pendidikan  hanya untuk orang-orang yang beruang,harga diri nasionalisme kita sudah di injak-injak sudah dirobek-robek oleh tradsi penindasan,tradsi kebodohan dan tradisi keserahakan yang tak habis-habisnya memakan memangsa anak-anak generasi penerus bangsa kita, yang tidak berdosa yang tidak tahu apa-apa. seharusnya pemerintah bertindak tegas dan serius memperhatikan pendidikan bangsa kita.
Setiap bangsa bermimpi tetapi tidak semua bangsa sama.mereka yang bermimpi di malam hari tahu bahwa mimpi hanya suatu angan-angan,sedangkan mereka yang bermimpi di siang hari sebaliknya bisa salah sangka.mereka memikirkan mana yang pengharapan yang terlampau dan mana yang sewajarya.bangsa yang besar ini masih terlampau di dalam ukuran sejarah tapi bukan bangsa yang tak peduli akan warganya.
Kita mengatakan bahwa kemerdekaan itu hak semua bangsa dan bukan pemberian dari seorang dermawan kita selalu berseru “ bangunlah jiwanya,bangunlah badannya”oleh karenanya kita harus menjadi manusia yang benar-benar berekpresi dan bereaksi serta rela berkorban untuk bangsa karena kita sebagai putra-putri dari bangsa yang kita impikan agar menjadi bangsa yang disegani dunia.
             
             

KAUM MISKIN BERSATULAH

Diposting oleh Abdus Somad , Sabtu, 04 Agustus 2012 15.43




Hiduplah rakyatku
Hiduplah negeriku
Hiduplah bangsaku
Hiduplah kaum miskin
          Kaum miskin brsatulah
          Kau yang di tindas
          Kau yang diperbudak
          Lawan dan bersatulah
Kita bukanlah rakyat biasa
Yang hanya mau diperintah
Kita bukanlah kerbau
Yang selalu menuruti perintah majikan
          Saatya kita begerak dan teriakkan pembebasan!!!!
          Kita hancurkan kapitalisme
          Kita hancurkan neoriberalisme
          Kita hacurkan militerisme
Kaum miskin bersatulah
Kita hapus penindasan
Kita hapus kekerasan
Kita hapus keterpurukan
          Saatnya kita menentang kemiskinan
          Saatnya kita bangun
          Kita rapatkan barisan
          Untuk rakyat
Mari kita kobarkan api
Dari jiwa kita yang suci
Untuk membebaskan negeri ini
 Yang sudah  di kotori
          Kaum miskin bersatulah
          Ayo berseru!!!ayo bersatu!!!
Kita pasti menang
Kaum miskin ayo kita bersatu
           

KORUPTOR MATI SAJA

Diposting oleh Abdus Somad , 15.42




Puaskah kau habisi rakyatmu
Puaskah kau menyiksa rakyatmu
Kau tidak pernah merasakan penderitaan rakyatmu
Kau tidak merasakan betapa susah rakyatmu mencari uang
            Tapi kau dengan santai memporoti uang rakyat
            Kau apakan uang rakyat
            Tidakkah puaskah kau dari rejeki tuhan
            Kenapa kau rela mengambil uang rakyatmu
Padahal rakya lebih membutuhkan
Kenapa tidak kau bagikan saja uang rakyat yang kau ambil
kau layak di bunuh dan di hanguskan
kau layak di bakar dan di gantung
            seandainya saja para pendahulumu tahu
            kelakuanmu seperti hewan liar
            masih beranikah kau katakan
            hidup rakyat………..

Rakyat sengsara

Diposting oleh Abdus Somad , 15.41




Rakyatkan menang melawan kedaulatan
Rakyatkan  menang melawan penindasan
Para pejabat lihatlah rakyatmu
Tergusur lapar di jalan
        Rakyat tertindas
        Rakyat menangis
        Karena ulah neoriberalisme
        Karena ulah kapitalisme
Takkah kau peduli dengan rakyatmu
Yang membutuhkan uluran tanganmu
Kenapa kau lupa dengan amanah rakyatmu
Kenapa kau ingkar janji dengan rakyatmu
        Padahal kau di pilih untuk mensejahterakan rakyat
        Kau dipilih,tapi kau khianati rakyat
        Tidakkah kau malu dengan janjimu untuk rakyat
Apalagi yang kau inginan dari rakyat
Sudah puaskah kau sakiti
Sudah puaskah kau derita
Sudah puaskah kau cincang
Sudah puaskah kau khianati
        Sampai kapan kau akan seperti ini
        Melihat rakyatmu menderita
        Siapalagi yang kau salahkan
        Sampai kapan kau menindas rakyatmu
           

Indonesia darah dan tulangmu

Diposting oleh Abdus Somad , 05.01




Indonesia Merah darahmu putih tulangmu
 Dihancurkan oleh segelintir orang munafik
 Hingga Warna darah dan tulangmu tak sebersih dulu
Tidak seperti para pejuang yang mempertahankan darah dan tulangmu
            Harga diri nasionalismemu sudah di robek-robek
            Oleh tradisi penindasan
            Oleh tradisi kebodohan
            Oleh tradisi keserakahan
Kapan warna darah dan tulagmu bisa kembali
Betapa generasi penerus kita
Betapa anak cucu kita sedih
Melihat warna darah dan tulangmu dikotori
            Padahal kau ingin anak cucu,penerus kita tahu
            Warna darah dan tulangmu bersih
            Tidak ada kuman dan bakteri di dalamnya
            Lalu apa yang akan  kau akan katakan untuk penerusmu?
Siapakah yang akan membersihkan darah dan tulangmu
Apakah kau akan menyuruh penerusmu
Padahal dia tidak mengotorinya
Dia tidak tahu apa-apa

PROYEK PENDIDIKAN INDONESIA

Diposting oleh Abdus Somad , Jumat, 03 Agustus 2012 08.09


Pada bulan april tepatnya tanggal 10 – 16 april 2012 Dua siswi dari Indonesia, Christa Lorenzia Soesanto dan Natasha Sutedja, berhasil mencetak prestasi membanggakan pada European Girls Mathematical Olympiad (EGMO) 2012 di Murray Edwards College, Inggris. Christa (15 tahun) meraih Medali Perak dengan total skor 30, sedangkan Natasha (15 tahun) menyabet Medali Perunggu dengan skor 15. Kedua belia berbakat ini ikut berkompetisi ke EGMO di bawah pimpinan Anton Wardaja.
Kesusksesan kedua siswa tersebut tak pelak menjadi inspirasi siswa lainnya begitu juga para guru untuk melahirkan obsesi untuk menjadikan sekolah masing- masing unggul di Indonesia. Seluruh lampu tersorot melihat kesuksesan mereka. Persoalan di sekeliling kita ( pendidikan kita  yang mestinya jauh tersorot, menjadi gelap gulita. Perhatian masyarakat Indonesia tersedot pada kesuksesan kedua siswa .tersebut mengapa tidak? Dengan bangga menyabet gelar juara di olimpiade berkelas  Internasional itu merupakansuatu capaian  prestasi yang luar biasa. Perhatian Publik  tersorot pada pencapain  mereka, tapi tidak pada proses. Masyarakat pun luput melihat efek negative yang terbangun dari proses panjang menuju tangga juara. Mereka hanya merayakan hasil dengan gegap gempita.
Sekilas memang tidak ada yang salah pada kemenangan  anak-anak  bangsa kita  di ajang yang bergensi di olimpiade Internasional . namun menilik lebih dalam, capaian tersebut  menjadi pelarian dari banyak persoalan pendidikan nasional kita. Setitik kesuksesan di tengah lautan masalah pendidikan bangsa kita yang bisa membahagiakan para penyelenggara pendidikan, ketika itu juga para pemerintah bangga akan pencapaian anak bangsanya Yang sebenarnya topeng untuk pendidikan nasional kita. Bangga akan prestasi, bangga akan gelar dan bangga akan juara yang di dapat dari anak bangsa  padahal masih banyak sekolah- sekolah yang perlu dan sangat membutuhkan perubahan sekolah, perubahan infrastuktur dan yang laiinya dan itu harusnya menjadi sorotan pemerintah, tidak hanya segelintir orang yang mendapatkan prestasi yang perlu di bicarakan atau di banga- banggakan.
Saat ini memang pendidikan di  Indonesia terutama di sekolah- sekolah  mereka hanya memuja kompetisi. Gaya berfikir yang kompetitif sangat erat pada system persekolah di  Indonesia. Mungkin di mulai sebagai sekedar alat merangsang motivasi belajar atau kepercayaan diri siswa untuk mampu berkompetisi di tingkat nasional sampai tingkat internasional. Kata kompetitif sudah menjadi matra bagi sekolah untuk mendapatkan lirikan dari pihak luar dan pemerintah itu sendiri. Namun watak memuja kompetisi punya tugas lain. Ia bisa menenggelamkan dan mengalihkan perhatian publik dan praktek persekolahan  atau  bisa saja menngalihkan dan membangga- banggakan bawah pendidikan kita sudah maju dan mampu bersaing di dunia. Tak heran kita melihat pendidikan kita hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang  tertentu saja mulai dari pembinaan, diseleksi sejara ketat yang kemudian mewakili bangsa Indonesia untuk beekompetisi, pulang membawa juara dan kemudian di bangga- bangkan oleh para pemerintah atas jerih payahnya bisa memberikan mendali untuk Indonesia itu lah yang Indonesia inginkan.
Namun yang  kita lihat pada kesempatan ini adalah apa sebenarnya efek dari semakin melebarnya daya jelajah anak-anak Indonesia  di ajang lomba olimpiade? Seperti yang disinggung pada bagian awal wacana yang berkembang di linkungan mereka menjadi kian menyempit. Orang seperti menemukan lomba- lomba tersebut sebagai  semacam “  jalan keluar “ atau lebih tepatnya jendela pelarian dari menumpuknya persoalan pendidikan di Indonesia.

MENEGENAL SUTAN SYAHRIR

Diposting oleh Abdus Somad , 00.34


Sutan Syahrir atau juga dieja sebagai Soetan Syahrir (Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909–Zürich, Swiss, 9 April 1966) adalah seorang politikus dan perdana menteri pertama Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia dari 14 November 1945 hingga 20 Juni 1947. Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada tahun 1948. Beliau meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Riwayai Beliau
Syahrir mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.
Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub debat di sekolahnya. Syahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.
Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.
Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis. Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar tak dibaca para pelajar sekolah.
Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda di Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden. Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali dengan Poppy, kakak tertua dari Soedjatmoko dan Miriam Boediardjo).
Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke kalangan anarkis yang mengharamkan segala hal berbau kapitalisme dengan bertahan hidup secara kolektif –saling berbagi satu sama lain kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.
Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh Mohammad Hatta. Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran Partai Nasional Indonesia (PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan. Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik. "Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan," katanya.
Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera bergabung dalam organisasi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), yang pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam forum-forum politik. Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.
Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi; secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.
Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.
Masa pendudukan Jepang
Sementara Soekarno dan Hatta menjalin kerja sama dengan Jepang, Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Syahrir yakin Jepang tak mungkin memenangkan perang, oleh karena itu, kaum pergerakan mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat. Simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah kader-kader PNI Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader muda yakni para mahasiswa progresif.
Sastra, seorang tokoh senior pergerakan buruh yang akrab dengan Syahrir, menulis: “Di bawah kepemimpinan Syahrir, kami bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan subjektif, sambil menunggu perkembangan situasi objektif dan tibanya saat-saat psikologis untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan.”
Situasi objektif itu pun makin terang ketika Jepang makin terdesak oleh pasukan Sekutu. Syahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri. Kala itu, semua radio tak bisa menangkap berita luar negeri karena disegel oleh Jepang. Berita-berita tersebut kemudian ia sampaikan ke Hatta. Sembari itu, Syahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.
Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus karena Jepang sudah menyerah, Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang, tidak merespon secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk oleh Jepang. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan diproklamasikan pada 24 September 1945.
Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab sikap itu berisiko kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepang dan RI adalah bikinan Jepang. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus. Akhirnya, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.
Masa Revolusi Nasional Indonesia
Revolusi menciptakan atmosfer amarah dan ketakutan, karena itu sulit untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep dan langkah strategis meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi. Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut banyak kalangan pejuang republik: Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Dua tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi dengan Pemerintahan Fasis Jepang, meski kemudian bertentangan jalan dalam memperjuangan kedaulatan republik.
Di masa genting itu, Bung Syahrir menulis Perjuangan Kita. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai Perang Dunia II. Perjungan Kita muncul menyentak kesadaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.
Tulisan-tulisan Syahrir dalam Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.
Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.
Perjuangan Kita adalah karya terbesar Syahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, "Satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan."
Terbukti kemudian, pada November ’45 Syahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Syahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.
Penculikan
Penculikan Perdana Menteri Sjahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada 26 Juni 1946 di Surakarta oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Kabinet Sjahrir II dengan pemerintah Belanda. Kelompok ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh, sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa dan Madura.
Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya Tan Malaka dari Partai Komunis Indonesia. Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras.
Presiden Soekarno sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal 1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.
Tanggal 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14 pimpinan penculikan.
Presiden Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto, pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini karena dia tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (koppig).
Kelak Let. Kol. Soeharto menjadi Presiden RI Soeharto dan menerbitkan catatan tentang peristiwa pemberontakan ini dalam buku otobiografinya Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.
Lt. Kol. Soeharto berpura-pura bersimpati pada pemberontakan dan menawarkan perlindungan pada Mayjen Soedarsono dan ke 14 orang pimpinan di markas resimen tentara di Wiyoro. Malam harinya Lt. Kol. Soeharto membujuk Mayjen Soedarsono dan para pimpinan pemberontak untuk menghadap Presiden RI di Istana Presiden di Jogyakarta. Secara rahasia, Lt. Kol. Soeharto juga menghubungi pasukan pengawal Presiden dan memberitahukan rencana kedatangan Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak.
Tanggal 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal.
Diplomasi Syahrir
Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden Soekarno. Namun pada tanggal 2 Oktober 1946, Presiden menunjuk kembali Syahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada 15 November 1946.
Tanpa Syahrir, Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa.
Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat. Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Karena agitasinya yang menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi. Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak meluap dan justru merusak.
Sebagaimana argumen Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan; tak mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang ‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.
Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif. RI pun menganut sistem multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti-kekerasan.
Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia internasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, menculik, dll. Karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.
Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan. Di pengujung Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Saat serdadu itu menarik pelatuk, pistolnya macet. Karena geram, dipukullah Syahrir dengan gagang pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia. Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.
Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Sjahrir I, Kabinet Sjahrir II sampai dengan Kabinet Sjahrir III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.
Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran aksi militer Belanda pada 21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (Kabinet Sjahrir III), Syahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Dengan bantuan Biju Patnaik, Syahrir bersama Agus Salim berangkat ke Lake Success, New York melalui New Delhi dan Kairo untuk menggalang dukungan India dan Mesir.
Pada 14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.
Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di Turki.
Syahrir populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang Dewan Keamanan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai The Smiling Diplomat.
Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.[1]
Partai Sosialis Indonesia
Selepas memimpin kabinet, Sutan Syahrir diangkat menjadi penasihat Presiden Soekarno sekaligus Duta Besar Keliling. Pada tahun 1948 Syahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) sebagai partai alternatif selain partai lain yang tumbuh dari gerakan komunis internasional. Meskipun PSI berhaluan kiri dan mendasarkan pada ajaran Marx-Engels, namun ia menentang sistem kenegaraan Uni Soviet. Menurutnya pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia.
Hobi Dirgantara dan Musik
Meskipun perawakannya kecil, yang oleh teman-temannya sering dijuluki Si Kancil, Sutan Syahrir adalah salah satu penggemar olah raga dirgantara, pernah menerbangkan pesawat kecil dari Jakarta ke Yogyakarta pada kesempatan kunjungan ke Yogyakarta. Di samping itu juga senang sekali dengan musik klasik, di mana beliau juga bisa memainkan biola.
Akhir hidup beliau
Tahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara dalam pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI dan PSI tahun 1958[2], hubungan Sutan Syahrir dan Presiden Soekarno memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai 1965 sampai menderita stroke. Setelah itu Syahrir diijinkan untuk berobat ke Zürich Swis, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI Sugondo Djojopuspito menghantarkan beliau di Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk Sugondo degan air mata, dan akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966.
Jabatan beliau selama beliau masih hidup
Perdana Menteri pertama Republik Indonesia
Ketua Partai Sosialis Indonesia (PSI)
Ketua delegasi Republik Indonesia pada Perundingan Linggarjati